MI5

Mission Impossible: Rogue Nation 4.4/5 STARS

“Bukan Sekedar Menjual Aksi Mencengangkan Cruise”

Berhubung seri Mission Impossible (MI) berarti “Misi yang Tidak Mungkin”, maka kesampingkan semua nalar (in a good way), kosongkan pikiran seperti sebuah gelas yang siap menerima minuman & bersiaplah (untuk sengaja) dibawa ke dunia spionase yang penuh trik tipu daya. Dalam hal ini, nalar menjadi alat konstruktif pembangun motif sekaligus konflik sepanjang film.

Setelah dengan aksi berbahaya bergelayutan di dekat pintu pesawat saat proses take-off lalu berhasil mengamankan gas beracun yang dapat membunuh populasi seluruh kota, Ethan Hunt (Tom Cruise) bersiap menerima pesan terbaru lewat piringan hitam seperti lakon yang sudah-sudah. Bedanya, rekaman tersebut justru berisi sebuah jebakan! Saat terbangun dari pingsan, Hunt sudah dalam kondisi terikat dan siap untuk disiksa. Kehadiran agen wanita Inggris misterius, Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) yang justru membebaskan Hunt membuatnya bertanya-tanya.

Sosok terakhir yang dilihatnya sebelum pingsan, Solomon Lane (Sean Harris), tokoh kunci organisasi rahasia anti IMF bertajuk “Sindikat” yang berisi mantan orang-orang penting dari berbagai negara. Misi mereka untuk membuat kacau dunia yang perlu digagalkan hanya oleh kehadiran Hunt dan tim setianya, Benji Dunn (Simon Pegg), William Brandt (Jeremy Renner) & Luther Stickell (Ving Rhames).

Perjuangan mereka sungguh tak mudah karena mendapat ganjalan dari Direktur CIA yang emosional, Alan Hunley (William Baldwin). Hunley tidak saja memaksa menutup IMF, tetapi juga menjadikan Hunt sebagai buronan internasional. Keberadaan Sindikat pun disinyalir Hunley sebagai fiktif dan akal-akalan Hunt saja. Pendapat Hunley bahwa IMF memang berjasa tetapi cara kerjanya yang seperti memanfaatkan “peluang” tak ubahnya seperti judi dan justru menimbulkan kerugian yang lebih masif. Rekan-rekan Hunt yang lain pun dapat dianggap pengkhianat negara.

Sementara di sisi lain, Faust masih asik “bermanin-main” berada di sisi Hunt dan Sindikat. Pada pihak manakah sebenarnya Faust memegang loyalitasnya? Keseruan pun banyak terjadi dengan memanfaatkan lokasi eksotis dan strategis di Austria, Maroko dan Inggris.

Setelah memanjat tebing di seri ke2, lalu bergelantungan di gedung tertinggi di dunia (Burj Khalifa, Dubai) di seri ke4, aksi-aksi memicu adrenalin, bahkan menantang maut, tanpa stunt-man dihadirkan kembali oleh Cruise di seri ke5nya ini. Mulai dari menahan nafas dalam air selama 6 menit, melepaskan diri dari ikatan tiang sembari menahan bobot tubuhnya dari grativasi (dengan kondisi topless yang tetap terjaga), kejar-kejaran motor tanpa pengaman, hingga bergelantungan di sisi pesawat yang sedang lepaas landas! Sungguh Cruise adalah seorang “adrenaline junkie” yang kian eksis untuk selalu berusaha mempertontonkan aksi2 menakjubkan di setiap serinya. Padahal usia Cruise pun sudah tidak muda lagi, 52 tahun saat film ini dibesut!

Keberhasilan aksi dan konsep plot film ini berkat chemistry seluruh tim, khususnya chemistry Cruise dengan sang sutradara & penulis Christopher McQuarrie dan produser J.J. Abrams. McQuarrie sebelumnya dipercaya Cruise menjadi penulis untuk film-film yang dibintanginya: ‘Valkyrie’, ‘Jack Reacher’, ‘Edge of Tomorrow’. Belum lagi ditambah dengan campur tangan Abrams, sang kreator serial ‘Alias’, ‘Lost’ dan sutradara ‘Mission Impossible III’ sertareboot ‘Star Trek’, di mana nuansa agen dobel di ‘Alias’ sangat terasa atmosfernya di seri terakhir MI ini.

Sebagai film action, film ini telah menunaikan tugasnya dengan baik. Tidak saja adegan aksi yang luar biasa, namun ditopang oleh konflik dan plot spionase yang berlapis, mumpuni tetapi tidak membingungkan. Humor-humor ringan dihadirkan dengan kadar dan momentum yang pas. Twist berlapis tentang double agent, usaha meraih kepercayaan antar pihak, pengkhianatan serta manipulasi tipu daya bergulir lancar dan rapi. Absennya subplot cinta-cintaan yang ala kadarnya syukurnya tidak dihadirkan di sini. Bayangkan jika film mata-mata ini adalah berkisah agen 007, maka sudah dapat dipastikan adanya hubungan khusus antara Hunt dan Faust.

Minim drama yang tidak perlu juga menjadi poin plus di genre action yang diusung film ini. Jika Anda jeli, maka beberapa dialog atau bahkan adegan sengaja diucapkan dan dilakonkan kembali sebagai upaya ironi “membalas” atas perlakuan atau perkataan tokoh lain sebelumnya. Departemen scoring pun tetap setia memakai lagu tema ikonik. Aksi teknologi “muka kletek” tetap dipertahankan sebagai “tanda tangan” khas seri MI. Padanan aksi kelas wahid, plot terjaga hingga bonus humor yang mengena membuat seri kelimanya ini unggul mempimpin sebagai film aksi musim panas 2015 yang keren, selain ‘Mad Max: Fury Road’ yang juga membuat penonton ternganga.

 

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan