THE MUMMY 2.9/5 Stars
“Tumpulnya Sebuah Ambisi Usang”

Berbarengan dengan bangkitnya film karya DC lewat Wonder Woman untuk menandingi semesta Marvel yang telah kokoh, Universal Studio tak mau ketinggalan. Cara ampuh mengambil untung menahun memang perlu strategi jitu: membentuk semesta berkelanjutan. Dengan tajuk Dark Universe, dunia berkumpulnya para makhluk legenda dan monster (seperti Dr Jekyll and Mr Hyde, Frankenstein, The Invisible Man), Universal memulainya dengan remake The Mummy.

Versi awal The Mummy dimulai tahun 1932, kemudian melejit di tahun 1999 berkat tangan dingin Stephen Sommers. Trilogi yang menampilkan Brendan Fraser ini dinilai produser masih dapat dikembangkan (baca: dijadikan “sapi perahan”) lebih optimal lagi. Maka diputuskankah The Mummy layak menjadi film pembuka dari semesta yang coba dibangun Universal.

Nick Morton (Tom Cruise) dan Chris Vail (Jake Johnson) ialah sekawan penjelajah yang berupaya menemukan benda berharga untuk dijual ke pasar gelap. Masa lalunya sebagai mantan tentara menjadikan Nick mampu beraksi tangguh (seperti tokoh di film-film Cruise lainnya). Di tengah pemukiman Irak, mereka menemukan lokasi yang tampaknya sebuah kuburan.

Arkeolog yang ikut menjelajah, Jenny Halsey (Annabelle Wallis) menemukan fakta situs bersejarah yang mereka hadapi bukanlah kuburan, tapi penjara. Hasil penemuan ini pun dibawa untuk diteliti. Setelah itu, hal-hal buruk terjadi, mulai serangan kawanan burung ke pesawat yang mereka tumpangi, sampai kutukan yang menimpa Morton.

Ternyata kuasa gelap dalam sarkofagus berasal dari Puteri Mesir, Ahmanet (Sofia Boutella), yang bangkit dari kubur. Dulu Ahmanet sempat dianggap sebagai pewaris tahta, tapi ia gagal meraih ambisinya karena kelahiran sang adik lelaki. Ia pun bersekutu dengan Dewa Kematian, Set untuk membalas dendam.

Setelah hadirnya Ahmanet di era sekarang, dunia menjadi kacau balau. Kini sepenuhnya keselamatan umat tergantung pada Morton yang memiliki karakter easy going ini. Sub konflik sempat muncul ketika Dr Jeckyll (Russel Crowe) menangkap Ahmanet dan memiliki misi tersendiri.

Kreativitas Hollywood makin pudar dengan banyaknya sekuel/reboot yang diproduksi demi alasan komersil. Begitu juga dengan hasil akhir The Mummy. Visualnya memang jauh lebih canggih. Tapi, plot yang sangat standar dan skenario loyo tidak mampu “menyangga” film berdurasi 110 menit ini.

Alur mencegah kekacauan dunia di tangan Tom Cruise tampaknya sudah sering ditampilkan di banyak film. Jika franchise Mission Impossible masih menghadirkan greget aksi dan kelincahan alur yang dinamis, maka kedua hal tersebut absen di film karya Alex Kurtzman ini. Nyaris tak ada nilai tambah yang menggugah.

Memang tak sepenuhnya buruk. Cruise, Boutella, Johnson, terutama Crowe berupaya berperan sesuai karakter. Tapi itu semua seolah tak bernyawa, ketika kisahnya sendiri sudah teramat picisan, bahkan datar. Ditambah dengan kehebatan tokoh Morton yang sangat umum seperti karakter heroik Tom Cruise di film-film sebelumnya.

Berbeda dengan chemistry Brendan Fraser-Rachel Weisz yang mampu membuat penonton harap-harap cemas, para tokoh di film ini sangat 2 dimensi dan “berjarak” dengan penonton. Keterlibatan emosi tak dihadirkan dari menit pertama hingga akhir film. Hal ini diperparah dengan ketegangan yang mudah ditebak dan dialog yang “kosong”.

Ambisi Universal untuk membangun semesta baru untuk menandingi DC , apalagi Marvel bukanlah tugas yang mudah. Sebagai awal, The Mummy terseok, tertatih mengemban misi berat tersebut. Motif usang bernama komersialisme telah mendorong produser bertindak instan dalam menggarap ulang suatu legenda. The Mummy yang dirilis tahun 2017 ini adalah sebuah kesia-siaan dan langkah mundur jika dibandingkan dengan versi 1999.

 Text by Pikukuh
Photo by impawards[dot]com

Tinggalkan Balasan