panPan 3.2/5 STARS
“Legenda Awal Bocah Terpilih Penyelamat Neverland”

Hollywood selalu berusaha memutar otak untuk menghasilkan pundi-pundi uang dengan memproduksi film bermodus sekuel, prekuel, mengangkat adaptasi dari novel bahkan me-reboot suatu lakon yang telah diketahui khalayak sebelumnya. Opsi terakhir dipilih Warner Bros untuk mengangkat legenda bocah lelaki yang diangkat dari karakter karya J.M. Barrie: Peter Pan. Adakah hal baru yang genting untuk diceritakan ulang?

Peter Pan (Levi Miller) adalah bocah yatim piatu 12 tahun yang semasa kecilnya dititipkan di depan pintu gerbang panti asuhan oleh sang ibunda, Mary (Amanda Seyfried). Di bawah kepemimpinan Suster Kepala Barnabas, Peter dan teman-temannya mengalami perlakuan yang jauh dari kata menyenangkan. Saat malam hari, beberapa anak hilang secara misterius. Sampai di suatu tengah malam, Peter yang sedang asyik tertidur ikut-ikutan diculik!

Pelakunya adalah anak buah Kapten Bajak Laut Blackbeard (Hugh Jackman). Dia membawa tawanan para yatim piatu dari seluruh dunia dengan kapalnya yang mengudara tinggi menembus awan, bahkan atmosfer! Tujuannya ialah ke daratan Neverland, di mana ia berkuasa dan bersiap untuk menaklukkan daerah lainnya, termasuk obsesinya akan Dunia Peri.

Peter yang juga diharuskan bekerja paksa di Neverland, beraliansi dengan Hook (Garrett Hedlund) dan Smee (Adeel Akhtar) untuk kabur dari tirani Blackbeard. Petualangan membawanya ke hutan Neverwood, bertemu dengan burung raksasa yang mematikan hingga ke kaum pribumi yang menyimpan rahasia akan masa lalu orangtua Peter. Dengan tambahan bantuan Tiger Lily (Rooney Mara), Peter berusaha mengetahui asal muasalnya, mendatangi Kerajaan Peri yg disembunyikan sekaligus kabur dari kejaran Blackbeard.

Versi ter-gres-nya ini jauh berbeda dengan Hook (1991) karya Steven Spielberg yg dibintangi pemain ternama: Dustin Hoffman, Robin Williams dan Julia Roberts. Di versi kekiniannya, Pan dideskripsikan di dalam ramalan sebagai bocah yang terpilih (jadi teringat Harry Potter?!?!) yang akan memimpin pemberontakan terhadap Blackbeard, sekaligus menjadi pembela bagi kaum peri, pribumi dan seluruh penduduk Neverland. Di film ini juga, Hook dan Peter Pan justru diceritakan bersahabat erat yang saling membantu, bukannya bermusuhan seperti kisah-kisah sebelumnya.

Premis ‘the chosen one’ dibawakan dengan ciri khas visual dongeng yang ciamik. Petualangan menembus ruang angkasa berkejar-kejaran antar kapal sungguh menarik secara kasat mata. Namun keasyikan hanya berhenti di situ saja. Tidak ada yang spesial dari sisi lainnya.

Seluruh karakter (kecuali Pan) dikenalkan begitu saja, tanpa adanya keterkaitan emosi atau mengundang empati. Hampir hitam dan putih saja, semudah itu. Karakter Peter Pan pun langsung mengalami transformasi dari kanak-kanak yang galau mencari ibunya berubah menjadi pemimpin yang berhasil menggalang bantuan dari kaum peri untuk menyerang Blackbeard. Leadership instan yang tidak melalui proses?

Alur yang terkesan (terlalu banyak) bermain-main hingga peran atau dialog komikal pun bertebaran di sepanjang film. Membuat film ringan bagi anak-anak sekaligus menarik bagi dewasa menjadi PR bagi sutradara Joe Wright (Atonement, Pride and Prejudice, Hanna), yang sungguh tidak mudah. Menyaksikan talenta akting para nominasi Oscar seperti Jackman dan Mara yang disia-siakan amat menyedihkan. Tapi setidaknya saat gubahan terbaru ‘Smells Like Teen Spirit’-nya Nirvana kompak dinyanyikan di momen kedatangan Peter di Neverland cukup menyegarkan.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan