papertownsPaper Towns: 3.6/5 STARS

“Proses Pendewasaan Remaja Di Tengah Kegalauan Akhir SMA”

Diperkenalkan sebagai film yang juga diangkat dari novel karangan John Green (‘The Fault in Our Stars’ (TFiOS)), ‘Paper Towns’ (PT) dimaksudkan untuk mengekor kesuksesan TFiOS yang lebih dahulu mengharu-biru penonton, khususnya segmen remaja. Masih mengambil segmen serupa, PT tetap berfokus pada cinta dan persahabatan dalam penyajian yang lebih realis.

Perkenalkan Quentin, bernama panggilan Q (Nat Wolff), yang sedari kecil sudah menaruh hati kepada anak tetangga yang baru dikenalnya Margo (Cara Delevingne). Jika Q adalah anak taat aturan dan berusaha hidup normal, maka Margo bersifat kebalikannya. Persahabatan masa kecil mereka mulai merenggang seiring usia bertumbuh, hingga di masa SMA. Bertegur sapa pun mereka menjadi sangat jarang.

Seperti film remaja lainnya, Q memiliki sidekick, 2 sahabat terbaiknya, Ben (Austin Abrams) dan Radar (Justice Smith) . Ben bergaya spontan dan senang bercerita petualangan seksualnya (entah fakta atau hanya sekedar ingin diakui). Sedangkan Radar adalah  satu-satunya dari mereka yang telah memiliki kekasih, Angela (Jaz Sinclair),tetapi belum membawa hubungan mereka ke tingkat lebih jauh, termasuk takut membawanya ke rumah karena suatu alasan menggelikan.

Di suatu malam, Margo kembali mengulang kebiasaannya dahulu: memanjat ke jendela kamar Q untuk membantunya melakukan beberapa aktivitas balas dendam. Q yang masih menyimpan ruang di hatinya untuk Margo tidak perlu berpikir lama untuk mengiyakan ajakan spontan dari sang pujaan. Balas dendam utamanya ditujukan kepada kekasih Margo yang telah diputuskannya, Jase (Griffin Freeman) ternyata selama ini berselingkuh dengan sahabat Margo sendiri Becca (Caitlin Carver). Sementara itu teman mereka lainnya, Lacey (Halston Sage) dan Chuck (RJ Shearer) turut menjadi korban balas dendam Margo. Kebersamaan Q dan Margo berakhir dini hari hari dengan pelukan erat Margo kepada Q.

Keesokan harinya seharusnya menjadi awal baru bagi Q yang berharap lebih kepada hubungan semalamnya dengan Margo. Namun yang terjadi justru Margo tidak masuk sekolah, bahkan menghilang misterius dari rumahnya! Orangtua Margo menganggap kepergian anaknya adalah hal ‘biasa’ karena pernah terjadi beberapa kali sebelumnya. Memang Margo yang dikenal Q menyukai misteri, justru pada akhirnya menjadi misteri itu sendiri. Q yang terakhir kali bersama Margo pun ikut ditanyai pihak berwajib.

Misteri hilangnya Margo mengusik benak Q. Perlahan-lahan Q menemukan beberapa petunjuk yang menuntunnya berusaha menemukan Margo, tetap setia ditemani Radar dan Ben. Lacey sendiri yang merasa tidak berbuat kesalahan kepada Margo pun ikut turut serta mencari Margo. Dalam proses pencarian tersebut, banyak hal baru didapatkan dan justru ketika hal yang dicari telah ditemukan ternyata tidak sesuai dengan tujuan semula. Pada saat itulah introspeksi dan perenungan perlu dieksekusi.

Bagi yang belum menyadari, aktor dan musisi pemeran Q, Nat Wolff sebelumnya juga bermain di TFiOS. Saat itu perannya sangat mencuri perhatian sebagai Isaac, sahabat Gus yang buta dan banyak berceloteh. Kali ini ia kebagian peran utama sebagai the boy next door yang mendamba cinta masa kecil dari gadis yang karakternya bertolak belakang darinya. Sementara Cara Delevingne, supermodel dengan ciri khas beralis tebal, baru kali ini mendapat peran utama dan ia menjalankannya dengan cukup lancar. Ilustasi musik dan OST pada PT juga dimaksudkan membangun mood di sepanjang film.

Pada PT jelas tidak ada tokoh yang meninggal atau cinta remaja yang berlebihan. Bahkan para tokohnya pun lebih memiliki dimensi daripada sekedar tokoh-tokoh klise di film remaja SMA lain yang terkotak-kotak antara kawanan ekstrim remaja gaul atau  kelompok nerd (baca: cupu). Kedua grup tersebut direpresentasikan secara tidak hiperbolik alias wajar. Mereka berinteraksi seperlunya tanpa perlu ada bullying yang klise. Bromance trio Q-Ben-Radar berjalan mulus dipenuhi guyonan yang berhasil (terutama berkat peran Ben) dan beberapa dialog yang tanpa disangka memberi makna.

Masa-masa akhir di SMA, sungguh banyak kegalauan remaja yang berkecamuk di benak mereka. Para tokoh PT merepresentasikan bermacam kegalauan tersebut tanpa harus jatuh ke tingkat lebay. Salah satu alasan menghilangnya Margo jelas karena kegalauan akan hal tertentu (tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut, karena akan menjadi spoiler). Di sisi lain Q merasa Margo memberi berbagai petunjuk kepadanya. Ia berusaha sebaik mungkin untuk mencari Margo, walaupun sempat mengesampingkan, bahkan mengecewakan sahabat-sahabat terbaiknya. Para tokoh pendukung pun sempat dikisahkan kegalauan masing-masing walaupun tidak merusak plot utama.

Pada akhirnya proses pendewasaan yang terjadi di penghujung SMA menjadi tidak terlupakan bagi banyak pihak. Justru yang banyak terjadi, proses perjalanan kehidupan malah lebih penting daripada hasilnya itu sendiri. Itulah yang terjadi pada PT. Ending yang anti mainstream mungkin tidak akan memuaskan seluruh pihak. Tetapi akhir yang terbilang wajar dan memberi pelajaran bagi para tokohnya menjadi cukup manis untuk sebuah kisah remaja kekinian ini.

Trivia: ada cameo salah satu pemeran pria ‘Divergent’ yang muncul sekilas di PT dan membuat penonton gadis di bioskop berteriak-teriak terkejut, siapakah dia?

  1. Ansel Elgort
  2. Miles Teller
  3. Theo James

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan