Pixels
PIXELS 2.6/5 Stars
“Kegagalan Konsep Kekinian Permainan Lawas”

Tanpa mengesampingkan elemen lainnya, ada 3 hal utama pembangun film ini:

  1. Konsep arcade game yang hits di tahun 1980-an coba dibangkitkan kembali. Menjual kerinduan publik (jika memang ada?) terhadap game macam Pac-Man, Donkey Kong, Centipede hingga Tetris yang kini sangat jarang dimainkan. Apakah masih relevan & menarik dengan masa saat ini, 3 dekade setelahnya? Sebagai pembangun konflik, diceritakan dokumentasi Kejuaraan Game Arcade Internasional Tahun 1982 dikirim melalui kapsul ke ruang angkasa sebagai bagian dari salah satu peristiwa penting sosial budaya yang patut direkam. Apa pentingnya? Sungguh konsep yang “maksa” alias mengada-ada, hanya sebagai plot driven konflik berikutnya: dianggap kaum “alien” sebagai undangan untuk menyerang bumi(???)
  1. Adam Sandler. Jujur, era kejayaannya saat melakonkan 50 First Dates telah lama usai. Namun tetap patut diberi kredit atas usahanya tetap konsisten berkarya komedi rutin setiap tahun, tidak seperti komedian lainnya macam Mike Myers yang sudah kehabisan amunisi. Tetapi hampir separuh dekade terakhir, film-film Sandler termasuk kategori “sampah”, seperti Jack & Jill, Blended, hingga yang terparah That’s My Boy. Namanya berulang kali masuk di kategori Razzie Awards, penghargaan tahunan untuk film & aktor terburuk. Sandler pun memutar otak untuk melanjutkan karir rutin tahunannya lewat Grown Ups 2 yang plotnya mengalir tidak jelas. Satu-satunya penyelamat karir Sanders adalah menjadi pengisi suara Dracula di animasi Hotel Transylvania yang sekuelnya akan tayang menjelang Halloween nanti. Kali ini Sandler tetap mendapuk sahabatnya sebagai pendamping utama, Kevin James, yang berperan sebagai teman kecil sepermainan yang kini menjabat sebagai Presiden USA. Bersama Josh Gad (paling dikenal saat mengisi suara Olaf di Frozen), Michelle Monaghan (Eagle Eye, The Best of Me) dan Peter Dinklage (seri Game of Thrones), mereka mengusir serangan alien ke bumi, ala-ala sedang bermain game di kehidupan nyata. Sandler yang kembali menjadi produser lewat label produksi Happy Madison banyak melemparkan lelucon yang cenderung miss daripada hit.
  1. Chris Columbus. Sutradara/produser yang sukses di balik Home Alone, Mrs Doubtfire, bahkan di seri-seri awal Harry Potter ditugasi menyutradarai film komedi ala-ala science-fiction ini. Hasilnya justru Columbus kehilangan signature khas filmnya yang family-friendly: seru namun penuh kehangatan. Ujung-ujungnya justru dieksekusi dengan tanggung dan penuh kekecauan. Konsep plot yang sudah lemah, skenario yang payah dibalut guyonan yang garing membuat Columbus tak berdaya. Selepas karyanya yang mediocre, Percy Jackson, tampaknya Columbus masih harus lebih banyak berbenah diri dan jangan sampai salah menodai resume karirnya di Hollywood.

Dengan biaya produksi sekitar US$ 88 juta, Pixels hanya mampu meraup US$ 24 juta di weekend perdana pemutarannya, ditekuk oleh Ant-Man yang merajai tahta box office selama 2 pekan berturut-turut. Jumlah pendapatan Pixels pun kian merosot drastis di hari-hari setelahnya. Secara kualitas pun mengecewakan, dari sisi pundi-pundi pun tidak sesuai target awal Sony Pictures, meski masih terbantu dari penjualan tiket internasional. Penonton mulai pintar memilah film mana yang benar-benar memberi nilai tambah, atau minimal menghibur.

Text by Pikukuh
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan