me-before-youME BEFORE YOU 3.2/5 Stars
“Roman (yang Diharapkan) Mampu Merubah Keputusan”

Kisah roman terakhir yang mengharubiru para remaja (khususnya perempuan) pernah begitu nge-hits saat pasangan yang divonis kanker, mencoba menjalin kasih (secara normal layaknya remaja lain), lewat‎ The Fault in Our Stars. Menyadari ada genre potensial yang belum digarap optimal (setelah tema post apocalypse remaja seperti The Hunger Games dan Divergent mulai terasa usang), para produser pun sibuk mencari novel roman remaja untuk difilmkan. Tujuannya jelas: pundi-pundi keuntungan yang berlimpah.

Pilihan jatuh pada novel karangan Jojo Moyes. Kisahnya sederhana. Gadis yang bergaya sangat nyentrik (baca: ndeso), Lou Clarke (Emillia Clarke, Games of Thrones) baru‎ saja kehilangan pekerjaannya sebagai penjaga (dan konsultan pelanggan) kafe. Setelah di-PHK, Lou yang juga tulang punggung keluarga, mencoba mencari pekerjaan berpendapatan lumayan atau tinggi.

Minimnya pengalaman dan kesempatan, membawanya ke pekerjaan mengurus pria lumpuh, Will Traynor (Sam Claflin)‎. Gaji besar rupanya sebanding dengan tantangan yang diterima. Banyak pengasuh yang mengundurkan diri karena ulah pria yang menjadi lumpuh karena ditabrak motor ini.

Lou yang memang membutuhkan uang dan mempunyai kemauan keras ini mencoba sekuat tenaga mengurus Will, yang tidak mudah diatur. Ulah Will, dari mulai mengerjai, mencela Lou‎, justru semakin mendekatkan hubungan mereka. Pacar Lou, Patrick (Matthew Lewis, pemeran Neville Longbottom di Harry Potter) pun mulai mencurigai kedekatan sang kekasih dengan majikannya.

Hati Lou jelas memilih siapa. Namun kebersamaan mereka terhalang dengan pilihan (saklek?) sang pria terhadap hidupnya. Mampukah Lou merubah pemikiran pujaan hatinya?

Emilia‎ Clarke jelas terlihat berupaya menampilkan sosok gadis kampungan yang polos, namun tetap terlihat layak dicintai oleh pria kaya arogan dan penuh sarkasme seperti Will. Sayangnya penampilan Sam Claflin belum mampu mengimbangi totalitas peran Clarke.

Jojo Moyes, sang penulis novel dipercaya juga menjadi penulis skenario film berdurasi 110 menit ini. Kelebihannya, Moyes adalah yang paling mengetahui seluk beluk kisah cinta sepasang insan berbeda strata sosial ini. Ia mampu memberi efek romantis di bagian adegan tertentu‎.

Namun‎ media novel dan film sungguh berbeda‎. Skenario yang ditulis Moyes masih belum mulus digambarkan dari novel karangannya sendiri. Di beberapa bagian masih terasa dragging, bahkan mendayu. Media layar lebar membutuhkan adegan visual yang lebih mengesankan, ditopang oleh skenario yang kokoh. Berbeda dengan novel yang membebaskan imajinasi liar para pembacanya. Film ini masih kalah jauh dibandingkan adaptasi The Fault in Our Stars untuk genre setipe.

Dua lagu Ed Sheeran yang dicomot menjadi lagu pengiring di dua adegan adalah usaha untuk lebih membuat komersil film ini, namun‎ masih terasa tempelan. Selain performa Emilia Clarke yang seru, film berbiaya US$ 20 juta ini terselamatkan berkat ending yang anti mainstream. Hal yang jarang terjadi.

Secara premis, sebenarnya tidak ada hal yang baru. Gadis udik dari desa yang jatuh cinta kepada pria kaya raya (namun memendam rahasia atau penyakit) sudah jamak‎ dimodifikasi menjadi roman yang banyak tantangannya. Nyaris tidak ada faktor nilai lebih dari film yang telah dirilis 3 Juni 2016 di negara asalnya. Namun jika hanya dinilai sebagai film yang cocok ditonton oleh pasangan yang sedang berkencan atau proses PDKT, maka film ini sudah menunaikan tugasnya dengan nilai rata-rata. Tidak buruk namun masih banyak PR jika ingin disebut istimewa.

Text by Pikukuh
Photo by mebeforeyoumovie[dot]com

Tinggalkan Balasan