room

ROOM 4.2/5 Stars
“Keterasingan‎ dan Adaptasi Traumatis (Pasca) Penyekapan”

Based on novel karya Emma Donoghue yang kemudian disulap menjadi skenario‎ oleh Emma sendiri, Room menjadi drama-thriller penculikan yang nggak biasa. Penonton diposisikan hadir saat korban, Ma/Joy (Brie Larson), telah berada dalam sekapan Old Nick (Sean Bridgers) selama 7 tahun! Rentang waktu yang nggak sebentar itu telah membawa luka (batin) kekerasan seksual dan “membuahkan” seorang anak lelaki berusia 5 tahun, Jack (Jacob Tremblay).

Sehari-harinya, Ma dan Jack dikurung di ruangan sempit bernama Room. Pintu ruangan diberi kode kunci kombinasi rahasia yang hanya diketahui oleh Old Nick. Dunia yang diketahui Jack hanyalah ruangan berukuran 5 x 5 meter, memiliki jendela kaca di bagian atas‎nya (sekaligus satu-satunya tempat cahaya matahari masuk), dan televisi yang berisi hal-hal di luar kehidupan Jack. Ma pun berupaya sekeras mungkin mencoba untuk membangun kehidupan normal bagi Jack.

Isu baru menyeruak ketika Old Nick kehilangan pekerjaan untuk menyokong supply kehidupan Ma dan‎ Jack. Curiga nyawanya akan segera dihabisi, Ma menyusun skenario fiktif: Jack sakit parah dan dikisahkan meninggal, sehingga Old Nick terpaksa membawa Nick keluar dari Room. Drama pelarian Jack membawanya ke babak kehidupan baru bagi dirinya dan Ma, setelah keberadaan mereka di Room.

Film karya L‎enny Abrahamson‎ ini berhasil meraih nominasi Oscar di 4 kategori bergengsi: Film, Sutradara, Aktris Utama, dan Skenario. Meski hanya berhasil menggondol 1 Piala untuk akting Brie Larson, yang menjadi bintang sesungguhnya adalah Jacob Tremblay. Sangat disayangkan, Tremblay tidak mendapat nominasi di kategori akting. Memandang kehidupan penculikan dan proses setelahnya dari perspektif anak berusia 5 tahun ditampilkan dengan akting dan skenario yang polos, lugas sekaligus menyentuh. Adaptasi Jacob terhadap dunia luar yang pastinya tetap menjadikan Ma sebagai pusat kehidupannya disajikan natural dan menggugah.

Akting Larson sendiri di atas rata-rata, walau belum mencapai level sangat mengesankan. Perubahan emosi setelah penculikan digambarkan nggak berlebihan. Kemarahannya kepada kedua orangtua yang telah berpisah, kerinduannya akan masa muda normal seperti teman sebayanya yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi, sampai amarahnya yang meletup kepada Jack karena hal-hal kecil, dibawakan Larson tanpa upaya yang terlihat memaksa. Keputusan Ma untuk sempat mencoba usaha bunuh diri pun tampak manusiawi dan dapat dipahami penonton.

Dengan segala usahanya yang terlihat natural, Room masih lemah dalam hal perubahan alur plot yang menghentak. Jangan harapkan twist atau greget yang akan dikenang sepanjang masa. Kesederhanaan narasi menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya.

Separuh durasi dalam masa penyekapan dan sisanya yang berisi proses adaptasi traumatis setelah penyekapan dicoba dikisahkan seimbang. Bukan drama terbaik tahun ini, tapi tingkah Jack dan kepolosan skenarionya (pastinya) telah mencuri hati penonton.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan