Sabtu-Bersama-BapakSABTU BERSAMA BAPAK 4.2/5 Stars
“Memandang Figur Ayah Takkan Pernah Sama Lagi”

Ayah, sosok yang kehadirannya selama ini menjadi penyeimbang dari kelembutan Ibu. Menjadi timpang ketika sosok itu tiada, dan para anak harus menempuh proses perjalanan hidup tanpa bimbingan orangtua lelaki. Hal inilah yang menjadi premis utama Sabtu Bersama Bapak.

Menyadari hidupnya takkan lama lagi, Gunawan (Abimana Aryasatya) menitipkan kedua anaknya yang masih kanak-kanak: Satya dan‎ Cakra kepada sang isteri, Itje (Ira Wibowo). Gunawan berusaha agar kehadirannya tetap dapat dirasakan oleh kedua putranya melalui rekaman video yang diputar setiap Sabtu seusai mereka pulang sekolah.

Sabtu menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh Satya dan Cakra setelah rajin belajar mulai Senin sampai Jumat, sesuai pesan sang Ayah. Banyaknya Piala dan piagam menjadi bukti keberhasilan mereka, berkat “arahan” setiap Sabtu dari ayahanda dan ketekunan sang ibunda mendidik mereka, sembari mengelola rumah makan, yang konon masakannya membuat Gunawan kian jatuh cinta.

5 menit pertama, penonton langsung disajikan fakta yang sedemikian lirih, dengan musik pengiring yang mendukung. Tampilan tone warna sephia menandakan setting mundur beberapa puluh tahun yang lalu. Namun setelahnya, penonton diajak menyaksikan perkembangan hidup tokoh Satya dan Cakra dewasa yang menarik.

Satya (Arifin Putra) bekerja di laut lepas pengeboran minyak, sedangkan istrinya Risa (Acha Septriasa) mengurus kedua putranya ‎di rumah mereka yang nyaman di Paris. Satya berusaha menerapkan hasil ajaran almarhum ayah, bahwa untuk menjadi suami, bahkan ayah, maka sebelumnya ia harus membuat perencanaan yang matang. Rencana, rencana, dan rencana.

Hidup dalam bayang-bayang sang Ayah, berupaya sekuat tenaga melaksanakan pesan ayahanda merupakan isu yang menjadi keseharian Satya. Tapi, ada yang luput dari pembelajaran Satya. Hal inilah yang membuat konfliknya dengan Risa kian meruncing.

Cakra dewasa (Deva Mahendra)‎ dikisahkan sudah berusia 30 tahun, selalu gagal mendapatkan gadis pujaan alias jomblo menahun, karena sifat canggungnya, namun telah berhasil menjadi Deputy Director di sebuah bank fiktif di Divisi Mikro dan memiliki rumah sendiri yang nyaman. Didukung oleh para anak buahnya yang menjadi scene-stealer: Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita), Cakra berusaha mendekati Ayu (Sheila Dara Aisha), karyawan (magang) baru di kantornya. Cakra tidak sendiri, karena ada Salman pesaing Cakra dalam merebut perhatian Ayu.

Bu Itje sendiri tidak lepas dari masalah. Ancaman kematian yang memisahkan dia dan suaminya kembali datang dalam hidupnya. Ia merasa tidak mungkin menceritakan secara gamblang kepada putranya dengan pertimbangannya sendiri: Satya yang sudah mapan berkeluarga di negeri seberang‎ bakal langsung kembali ke Indonesia dan Cakra kemungkinan akan beralih fokus mengurus ibunya, tanpa memikirkan jodohnya kelak.

Sangat jarang film Indonesia yang kuat di banyak lini seperti Sabtu Bersama Bapak. Para pemain misalnya. Setiap aktor dan aktrisnya terlihat di depan layar menjalankan tugas sesuai perannya masing-masing dengan nilai memuaskan. Entah itu peran besar atau kecil, semua pemeran menjalankannya dengan kesungguhan.

Tengok bagaimana chemistry Abimana-Ira, Arifin-Acha, Abimana-Arifin, Deva-Ira di lini drama. Bukan sama sekali menjual kesedihan. Rasa yang dituangkan mampu sampai ke penonton tanpa usaha yang berlebih, nyaris effortless.

Setiap Arifin-Acha bersitegang rasanya penonton ikut menaruh hati. Di depan layar mereka berhasil menjadi pasutri yang menyimpan masalah menahun, lalu memuncak. Jangan lewatkan juga adegan “mimpi” pertemuan Abimana-Arifin, dialog lugas mereka yang menegaskan konflik, tapi justru di sisi lain mencerahkan.

Yang lebih mengejutkan, ada sisi komedi yang mengambil porsi tidak sedikit. Kredit lebih patut diberikan kepada Deva yang selama ini sudah terlatih berperan kocak tanpa harus melucu berlebihan di komedi situasi stripping Tetangga Masa Gitu. Dengan dukungan‎ Ernest dan Jennifer, subplot Cakra menjadi penyeimbang senyum (bahkan mungkin tawa) di luar konten drama yang sudah solid.

Diangkat dari novel laris karya Adithya Mulya dan kemudian digubah menjadi skenario oleh Monty Tiwa (yang juga bertugas sebagai sutradara), Sabtu Bersama Bapak dirasa perlu mengembangkan beberapa hal yang tidak ada di novel, misalnya adegan hilangnya anak-anak Satya-Risa. Hal yang sah-sah saja untuk menambah efek dramatis sebenarnya. Tinggal tergantung bagaimana “jahitan” para tim dan kru sehingga terlihat rapi. Untungnya “jahitan” tambahan adegan yang belum terlalu mulus masih tertolong berkat skenario “bergizi” dan akting para pemain yang cukup meyakinkan.

Nuansa drama kian diperkuat oleh lantunan Iwan Fals yang membawakan salah satu lagu tema Sabtu Bersama Bapak. Berdasarkan rilisnya, Iwan Fals tidak sembarangan merelakan la‎gunya dipakai untuk sembarang film. Karena juga menjadi seorang ayah dan liriknya pun sesuai, maka setujulah Bang Iwan mengisi OST Sabtu Bersama Bapak, terutama ketika lagunya diperdengarkan di momen Gunawan dan Itje berdansa. Indah!

‎Puntiran cerita tentang Cakra yang sama seperti di novel sejujurnya agak usang. Namun dengan berdalih “namanya juga jodoh tidak akan kemana” seolah-olah menjadi alasan arah cerita berikutnya. Tidak mengganggu, tapi mau tidak mau membuat para penonton pun maklum.

Dramaturgi yang dihadirkan Sabtu Bersama Bapak terjaga dengan indah hingga adegan yang menampilkan video terakhir Gunawan sebelum ia meregang nyawa. Sebuah pembelajaran bagi para pemeran dan juga penonton betapa krusialnya sosok ayah dalam tumbuh kembang setiap anaknya.

Film yang baik adalah kisah yang dapat memberi nilai tambah. Terlepas dari beberapa kekurangan minor, Sabtu Bersama Bapak jelas telah mengeksekusinya dengan nilai cemerlang.‎ Selamat memandang figur ayah (atau menjadi sosok ayah) dengan kacamata berbeda setelah lampu bioskop dinyalakan!

Text by Pikukuh
Photo by movie[dot]co[dot]id

Tinggalkan Balasan