salawaku
SALAWAKU 4.2/5 Stars
“Ketika Sosok yang Disayangi Menggoyahkan Hidup”

Hidup itu (konon katanya) cuma tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Tagline di poster film berdurasi (hanya) 82 menit ini sepintas menyampaikan rasa pesimis yang terus menerus. Lalu, apa kemudian ambience sepanjang film akan dibawa ke arah itu, bahkan mungkin malah apatis?

Tokoh utama yang bernama sama dengan judul film, Sawalaku (Elko Kastanya), sudah mengalami kepedihan hidup sejak dini. Sejak sang kakak, Binaiya (Raihaanun), pergi dari desa, Salawaku kehilangan sosok pengayom sebagai satu-satunya panutan hidup, setelah kedua orang tuanya terlebih dulu meninggalkannya. Terdengar kabar, Binaiya kini ada di Kota Piru.

Bermodalkan rantang berisi ikan dan pisang, Salawaku bertekad menyusul kakak tercinta ke Piru. Perjalanan Salawaku membuatnya berkenalan dengan Saras (Karina Salim). Dikisahkan karakter Saras adalah generasi milenial masa kini yang sedang galau (pastinya masih tentang asmara), bergaya kekinian dan tak (pernah) lepas dari sosial media.

Karena dianggap sebagai balasan hutang budi, Saras pun menawarkan diri mengantarkan Salawaku mencari Binaiya. Di tengah perjalanan, Kawanua (J-Flow Matulessy) mencoba membantu dan menjadi teman perjalanan Salawaku. Setelah melalui berbagai konflik di perjalanan, kenyataan yang ditemui di Piru tak seindah yang penonton kira.

Setiap karakter memiliki permasalahan tersendiri. Ketika para tokoh bertemu, bersimpangan di persinggahan jalan, untuk selanjutnya berangkat bersama, inilah yang menjadi pencetus konflik tipikal road movie. Salawaku secara konsisten menjadi pencerita yang telaten, dengan landasan skenario yang padat dari Iqbal Fadly.

Naskah tak menjadi hidup jika tak diwujudnyatakan oleh para “wayang”, aktor-aktris yang memerankannya. Dari departemen akting, keseluruhan pemain menampilkan performa yang saling mendukung. Kredit khusus diberikan kepada Raihaanun, yang memang layak meraih Citra pertamanya tahun lalu berkat perannya di film ini. Gestur dan ekspresinya jelas menyimpan emosi tersembunyi yang siap “pecah” di momen tertentu.

Karya Prita Arianegara ini bertabur lanskap pemandangan mempesona khas Pulau Seram, Maluku, di hampir sepanjang film. Bening sekaligus menghanyutkan. Nyaris setiap adegan berlatar belakang alam lebih dari cocok untuk dijadikan screen saver kamu. Salah satu sinematografi yang mengesankan di perfilman nasional tahun ini.

Sebagai salah 1 dari 5 nominasi Film Terbaik Citra 2016, Salawaku menyimpan tak sedikit potensi dengan tampilan “kesederhanaannya”. Sejatinya, perjalanan seorang manusia itu berujung untuk mencari dan menemukan jati diri, sekaligus passion. Pesan tentang meninggalkan dan ditinggalkan memang tak salah ketika dihubungkan dengan orang lain. Setiap karakter di film ini mencoba bertahan hidup ketika orang lain yang sangat disayangi itu menggoyahkan hidup. Hal yang jelas pernah dialami oleh siapa saja. Relatable and believable!

Text by Pikukuh
Photo by youtube

Tinggalkan Balasan