selfless“Self/Less” 2,7/5 STARS

“Transfer Kesadaran Tak Berjiwa”

Ide yang menarik sekaligus mengusik coba diangkat film bergenre sci-fi thriller ini: memindahkan jiwa (kesadaran) seseorang ke raga lain! Tentu saja yang mampu melakukannya adalah kaum berduit, direpresentasikan oleh tokoh Damian (Ben Kingsley). Di balik kesuksesan karirnya sebagai pebisnis, Damian menyimpan duka karena penyakit kanker yang dideritanya sekaligus hubungannya yang tidak berjalan mulus dengan sang putri.

Kartu nama yang diterima membawanya pada Albright (Matthew Goode), pengelola perusahaan misterius yang mampu membuatnya tetap hidup dalam raga orang lain. Kematiannya pun lalu dipalsukan dan dipublikasikan. Damian yang kini berada dalam tubuh jauh lebih muda dan prima (Ryan Reynolds) berusaha memanfaatkan keriaan yang sudah lama tidak dijalaninya.

Tidak lama berselang, kilasan kejadian berkelebat di benak Damian. Potongan imaji tentang seorang wanita, anak kecil perempuan mengetuk nurani Damian untuk mencari tahu. Kisah selanjutnya sudah dapat ditebak. Bahkan Damian pun diposisikan melawan alias memberontak terhadap organisasi yang telah “berjasa” membuatnya menjadi “abadi”.

Walaupun premis tentang transfer kesadaran ini sebenarnya sungguh menjanjikan, sayangnya dieksekusi tak berjiwa, tanpa roh yang meyakinkan. Alih-alih fokus bergumul dengan sisi psikologis Damian atau konflik Damian muda dengan ke-“abadi”-annya, keputusan David dan Alex Pastor sebagai penulis skenario, untuk membelokkan cerita menjadi bergenre action-thriller sungguh basi. Plot pun terasa jauh mengendur. Misi penyelamatan ibu-anak perempuan sekaligus kejar-kejaran dengan antek-antek Albright terasa garing, di sisi lain juga melempem.

Pada akhirnya Albright yang (tiba-tiba) diposisikan terdakwa alias antagonis harus merasakan “balas dendam”(?) Damian. Sungguhlah payah menyaksikan pilihan Damian di akhir film ternyata membawa sukacita bagi duet ibu-anak perempuan. Bukan kesalahan Ryan Reynolds ataupun Ben Kingsley. Karakter Damian ditunjukkan ambigu antara juragan properti kaya raya nan ambisius, jagoan kesiangan sekaligus idealis yang di sisi lain menjadi realistis. Tumpang tindihnya karakter Damien tua dan muda ini justru membuat penonton tersesat, ditambah dengan alur yang (sangat) memaksakan diri untuk kemudian jatuh menjadi generik.

Andai saja kisah ini dapat ditulis ulang, sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang cukup menggugat tanya: apakah etis mentransfer jiwa (kesadaran) sehingga dapat terus abadi selamanya? Jangankan sampai di level menggugat, film ini hanya mengusik minat penonton, untuk kemudian dibuat ditinggalkan tersesat di dalamnya.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan