Single1SINGLE 3.7/5 STARS
“Menertawakan Catatan Harian Jomblo Akut”

Raditya Dika! Setelah tahun lalu muncul di 3 judul film sekaligus (Cinta dalam Kardus‎, Marmut Merah Jambu, Malam Minggu Miko), tahun ini dia memilih untuk menyimpan amunisinya dengan tampil hanya di 1 judul film menjelang akhir tahun. Keputusan yang jitu mengingat ketiga film yang dirilis tahun lalu tidak terlalu pecah (bandingkan dengan Cinta Brontosaurus (2013) yang kocak serta telah ditonton 892.915 orang menurut filmindonesia[dot]or[dot]id).

Dika yang memiliki lebih dari 12.4 juta follower twitter menjadi pertimbangan bisnis Soraya Intercine Films menggarap Single, setelah sebelumnya juga telah terbiasa menggarap film-film grande, terkesan mewah dengan biaya fantastis seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Supernova.

Berbeda dengan kisah kasih cupu Dika sebelumnya, film ini terlihat jelas ‘naik kelas’ sebagai film mahal pertama Dika dengan bantuan eksekutif produser yang mendukung pendanaan penuh. Kisah perjalanan liburan mewah ke Bali, plot skydiving, bahkan mobil meledak menjadi pelengkap adegan yang tidak akan muncul di film Dika tanpa sokongan dana dari produser atau sponsor.

Tampilan sinematografi yang wah khas Soraya Intercine Films pun bertebaran. Jangan lewatkan penampilan khusus, Pevita Pearce (aktris kesayangan Soraya Films selain Raline Shah dan Shandy Aulia) yang muncul (tetap cantik) sebagai salah satu gadis inceran Ebi (Raditya Dika).

Alkisah‎ Ebi, cowok yang cemen dan tidak PD, sehingga tidak juga sanggup melepaskan status jomblo akutnya. Di suatu malam ia diundang makan malam oleh mantan teman SMA-nya, Vina (Elvira Devinamira, Putri Indonesia yang sayangnya masih kaku berakting). Ebi yang didukung oleh kedua sahabat kos-nya, Wawan (Pandji Pragiwaksono) dan Victor (Babe Cabita), berharap besar pada pertemuan reuninya dengan Vina. Yang dituai ternyata justru kekecewaan besar.

Wawan yang provokatif, mendorong Ebi, yang masih pengangguran, berkenalan dengan gadis dengan modal percaya diri. Tidak butuh waktu lama bagi Ebi menatap gadis impiannya,yang ternyata justru ada di kamar kos seberang. Kebetulan gadis mahasiswi kedokteran tersebut bernama Angel (Annisa Rawles, the next big thing setelah Raline Shah?) yang juga aktif menjadi relawan di Medical Center khusus kaum lansia.

Ebi tidak sendiri. Kompetitornya bernama Joe (Chandra Liow),yang dikisahkan teman semasa kecil Angel. Joe sudah lama memendam rasa namun Angel pun kadung memanggil Joe sebagai abang. Persaingan Ebi versus Joe berlangsung sengit, walau sayangnya interpretasi Chandra Liow‎ terhadap karakter Joe tampak lebay.

Raditya Dika tampil kembali sebagai tokoh ‘the boy next door’ yang membumi, sekaligus ingin mendeklarasikan pesan bahwa ‘lucu itu menarik’, tanpa harus berwajah rupawan‎ dan berbadan tinggi. Dalam hal ini Dika berada dalam zona nyamannya, di area dimana ia fasih berceloteh menertawakan kehidupan (sebagian) kaum cupu pendamba cinta yang ceroboh namun tulus mengasihi.

Peran Wawan-Victor sebagai sohib Ebi, pembangun bromance sekaligus motor sisi komedik berjalan lancar‎. Tidak sekedar tempelan, tetapi mereka juga cukup berperan dalam membangun konflik penyeimbang. Latar belakang keduanya tampak tidak terlalu dijelaskan, untuk memberi keleluasaan tokoh Ebi dalam berkeluh kesah.

Dalam film ini juga Dika memberi kesempatan dirinya untuk tampil dalam beberapa adegan ber-stand-up comedy. Sebagai seorang yang multi tasking (pemain-sutradara-penulis‎) dalam film ini, Dika berusaha benar mengawal film karyanya sehingga tetap like-able (baca: komersil) oleh penonton dan pastinya di mata para produser.

Signature Dika juga masih sangat terbaca jelas. Bagaimana ia dapat mengolah permasalahan keluarga (Ebi dilangkahi menikah sang adik lelakinya, Alva yang lebih sukses sekaligus didorong ibunya untuk segera punya kekasih), Ebi versus Wawan+Victor (jadi teringat konflik persahabatan di Marmut Merah Jambu), rekonsiliasi, hingga gadis yang diimpikannya muncul di saat tak terduga. Keseluruhannya dijahit dengan pola yang Raditya Dika banget. Hingga pada adegan klimaksnya, Dika mampu menghadirkan kembali kehangatan atas esensi suatu hubungan interpersonal, apapun itu.

Single berupaya mengembalikan kejayaan Dika saat merilis dua film awalnya yang cukup berjaya kala itu: Kambing Jantan The Movie yang sangat jujur dan Cinta Brontosaurus yang juga secara cerdas menyentil ironi industri‎ perfilman. Dramaturgi yang menanjak dengan konklusi yang jelas akan pesan tentang “bagaimana menjadi orang yang berguna bagi orang lain” adalah beberapa poin plus film ini.

Durasi 127 menit film ini adalah yang terpanjang selama filmografi Dika. Untungnya tidak membosankan dan kedodoran. Walaupun beberapa momen terkesan janggal, tetapi masih dalam kadar yang dapat ditoleransi. Film termahal Dika ini akan mampu bersaing dengan film-film Indonesia lainnya dan Star‎ Wars The Force Awakens.

Modalnya (sekaligus nilai jualnya) sungguh simple: kejujuran Dika dalam menangkap kegelisahan para single alias jomblowan, jomblowati dan menyajikannya kembali dengan cara yang nyaman serta hangat. Tertawa sekaligus membawa pulang sesuatu bagi penonton setelah beranjak dari kursi bioskop.


Text by @pikukuh22
Photo by Single

Tinggalkan Balasan