southpaw

SOUTHPAW 3.7/5 STARS
“Bertanding Melawan Ego Diri Sendiri Adalah Yang Tersulit”

Setelah terakhir kali disuguhi drama kehidupan petinju lewat duet kakak beradik Tom Hardy-Joel Edgerton (Warrior), kini giliran Jake Gylenhaal yang menjajal lewat peran sebagai Billy Hope. Salah satu peran terbaiknya setelah sebelumnya mendapat nominasi Oscar di ‘Brokeback Mountain’. Unsur drama dan action berimbang disajikan, ditopang oleh totalitas kekuatan akting para pemainnya.

Billy Hope adalah petinju yatim piatu yang besar di jalanan. Dari sanalah ia berkenalan dengan sang isteri, Maureen (Rachel Adams, berperan singkat namun efektif). Kehidupan indah mereka dikarunai seorang putri, Leila Hope (Oona Laurence). Rekam jejak Billy yang tidak pernah kalah berubah total 180 derajat setelah insiden tidak direncanakan yang menewaskan sang isteri. Maureen harus meregang nyawa sebagai akibat Billy yang lebih menuruti emosinya dibanding mendengarkan saran sang isteri.

Billy yang selama ini hidupnya hanya untuk bertarung, merasa kelimpungan dan kehilangan arah. Segala sesuatunya dahulu telah disiapkan dengan cermat oleh sang almarhumah isteri. Kehilangan sang penunjuk arah membuat Billy tersesat, hingga dianggap menelantarkan anak oleh negara. Belum lagi harus kehilangan seluruh aset yang dikumpulkannya dengan susah payah.

Sang manajer Jordan Mains (50 Cent) tetap bersikap oportunis dan memaksa Billy untuk tetap bertanding dengan kondisi psikologis yang jauh dari kata normal. Alhasil, insiden lain lagi pun terjadi dan Billy kehilangan izin untuk bertarungnya. Dari titik tertinggi, Billy terjerembab ke titik nadir terendah. Sudah jatuh tertimpa tangga, digigit anjina lagi. Billy pun menggelandang tanpa rumah seorang diri, sementara sang putri diasuh oleh negara.

Kemalangan Billy mulai menemukan titik terang ketika berkenalan dan akhirnya bekerja kepada pelatih tinju Tick Willis (Forest Whitaker) yang semula enggan terhadap dirinya. Kepercayaan diri Billy mulai tumbuh seiring dengan hubungannya dengan Tick yang mulai cair dan melatihnya kembali. Kesempatan untuk berubah lebih baik pun perlahan dimanfaatkannya, sekaligus untuk menjadi sosok ayah yang pantas bagi putri semata wayangnya.

Performa akting para pemain patut mendapat pujian. Transformasi yang Gylenhaal lakukan cukup signifikan. Tubuhnya berbongkah otot yang dipahat membuat sosoknya jauh berbeda dibanding peran pemuda cungkring nan oportunis yang mencuri perhatian di ‘Nightcrawler’ (2014). Selain metamorfosa fisik, perubahan pada sisi emosional terus diulik dari awal hingga akhir dengan menunjukkan grafik yang meningkat. Tampilan babak belur Billy dan gaya bicaranya yang serampangan menunjukkan bahwa sosok Billy memang lahir dan besar di jalanan, jauh dari kata teredukasi.

Sementara Whitaker (yang pernah memenangkan Oscar lewat ‘The Last King of Scotland’, 2006) mampu mencuri perhatian sebagai pemeran pendukung yang memiliki prinsip sekaligus berwelas asih terhadap Billy. Kehadiran aktor cilik Oona Laurence menjadi penguat faktor drama sekaligus pemberi kontributor motivasi terbesar terhadap perkembangan jiwa Billy.

Sayangnya kekuatan akting para pemainnya kurang didukung oleh perkembangan plot yang lincah. Setelah kejatuhan kedigdayaan Billy, alur langsung bergerak linear tentang bagaimana Billy tertatih dan perlahan mencoba meraih hidupnya kembali. Tetap menarik untuk disimak, tetapi minim kejutan dan endingnya pun dirasa cukup biasa saja alias mudah ditebak. Akan lebih baik jika di paruh kedua film lebih tidak normatif dan penonton dibiarkan dibawa dalam jatuh bangunnya Billy yang tidak seluruhnya berhasil dengan mulus.

Sebelumnya Billy memang petinju yang tidak terkalahkan. Namun ketika dihadapkan kepada pertarungan terbesar yaitu melawan ego dirinya sendiri, Billy masih harus banyak belajar. Pun terhadap para penonton. Cerminan untuk diingatkan bahwa musuh terbesar tidak terletak jauh, cukup ditengok ke dalam pribadi masing-masing, terhadap pergumulan ego yang berkecamuk untuk dikalahkan hari demi hari.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan