spectreeSPECTRE 3/5 STARS
“Meluluhlantakkan Pencapaian Skyfall”

Setelah Skyfall sukses memecahkan rekor sebagai film Bond terlaris sepanjang masa (sekaligus memenangkan 2 Oscar untuk kategori Original Song dan Sound Editing, dengan total raihan 5 nominasi Oscar), tugas berat diemban sang sutradara, Sam Mendes dan tim. Kali ini sang pemeran utama, Daniel Craig juga menjadi co-producer. Ekspektasi tinggi pun kadung disematkan pada seri lanjutan ini.

Adegan ‎pertama Spectre digarap ciamik oleh sinematografer Hoyte Van Hoytema dengan pengambilan kontinu (one-shoot) yang mengikuti sang jagoan kita berada di tengah Perayaan Orang Mati di Meksiko. Bukan Bond jika adegan selanjutnya tidak melibatkan kejar-kejaran, ledakan yang menghebohkan kota, hingga duel sengit di atas helikopter yang berputar-putar di atas alun-alun kota. Adegan diakhiri dengan Bond yang berhasil merebut cincin bergambar gurita hitam dari tangan Marco Sciarraa (Alessandro Cremona). Opening action sequences yang cukup menarik.

Misi ilegal Bond di Mexico membuat murka M (Ralph Fiennes), yang juga tengah gusar karena ada wacana penggabungan sindikasi berbagai agen intelijen internasional menjadi Sembilan Mata. Program ini berjalan dengan C (Andrew Scott) sebagai koordinatornya. Di sisi lain, program 00 terancam ditutup karena dianggap telah usang, sehingga Bond harus bergerak sendirian tanpa dukungan resmi (dejavu dengan Mission Impossible Rogue Nation (MI5) ?).

Ternyata keberadaan Bond di Mexico bermula dari pe‎san terakhir M (Judi Dench) untuk membunuh Sciarra sekaligus menghadiri pemakamannya. Kehadiran Bond di pemakaman Sciarra menuntunnya kepada sang janda, Lucia (Monica Belucci), gadis Bond tertua yang berusia 51 tahun.

Didapatlah petunjuk Sciarra sebagai anggota organisasi rahasia yang perlu diselidiki Bond lebih lanjut dan (kebetulan?) akan diadakan pertemuan berikutnya tengah malam nanti. Kedatangan Bond ternyata dengan mudah diketahui Franz Obenhauzer (Christoph Waltz), sang pemimpin organisasi yang bertajuk‎ Spectre. Obenhauzer sendiri memiliki keterkaitan dengan sejarah masa lalu Bond sebagai yatim piatu.

Beberapa petunjuk membawa Bond berpetualang ke Austria, Maroko hingga bertemu dengan Madeleine Swann (Lea Seydoux‎), yang dapat menuntunnya menemukan Obenhauzer. Kehadiran Moneypenny (Naomie Harris), Q (Ben Whishaw) bahkan M sebagai rekan pendukung Bond sekali lagi mengingatkan penonton akan tim Ethan Hunt yang sedemikian solid.

Plot utama yang disajikan berupaya menggabungkan beberapa seri Bond (versi Daniel Craig) sebelumnya. Grand design yang menarik, namun lemah, minim penceritaan perihal keterlibatan setiap tokoh-tokoh penting (Vesper Lynd, Silva dan lainnya) di dalam organisasi yang diceritakan sungguh berbahaya. Padahal dinarasikan kematian orang-orang terdekat Bond adalah berkat campur tangan Spectre yang sedemikian gatal ingin membuat kacau hidup Bond.

Durasi Spectre 148 menit (lebih lama daripada Skyfall) malah menyeret penonton ke adegan atau drama yang tidak perlu, bahkan mengganggu nurani terutama 45 menit terakhir. Semenjak adegan makan malam (sok) romantis Bond dan Swann di gerbong restorasi kereta api (entah darimana mereka mendapatkan setelan resmi dan gaun???), adegan-adegan berikutnya sungguh melelahkan sampai membuat sakit hati karena penonton berulang kali disuguhi kebodohan dan keklisean yang memuakkan. Sangat kontras dengan Skyfall menceritakan Bond yang nyaris tewas, sekaligus merekam momen emosional Bond ketika ditinggal wafat M.

Cinta (kilat) Bond dan Swann terasa tidak alami, namun mendapat porsi yang sungguh berlebihan, terutama drama 3 menit penyelamatan‎ Swann yang tidak bernilai. Adegan-adegan tidak masuk akal dan aksi Bond yang selalu berhasil lolos laksana sedang berceloteh kepada anak kecil, tanpa mempertimbangkan unsur nalar sama sekali. Sungguh anti klimaks dan nyaris membuat saya mengumpat saat di adegan paling kritis, Bond justru memilih untuk meninggalkan Obenhauzer, membuang pistol dan mendatangi Swann hanya untuk sekedar berciuman?!?!

Dari sisi villain, Christoph Waltz yang berprestasi menggondol 2 Oscar (dengan peran-peran bad-ass-nya) dibuat nyaris tak berdaya dengan peran Obenhauzer. Karakternya memang dibuat dingin dan sentimen terhadap Bond. Namun melihat penampilan kelas Oscar ala Waltz di Inglorious Basterds dan Django Unchained, peran Obenhauzer ini sungguh menyia-nyiakan talenta Waltz.‎ Sangat berbeda ketika pemenang Oscar lainnya, Javier Bardem didapuk menjadi Silva, villain “nyentrik” yang menggoda Bond di Skyfall.

Belum lagi villain kedua yang ternyata kemunculannya sudah diduga sejak awal. Konfliknya terasa dua dimensi dan sungguh bodoh menyaksikan kematian konyolnya yang jatuh dari gedung. Plus, twist yang telah mudah ditebak dan minim unsur kejut. Banyak kemiripan dengan Mission Impossible Rogue Nation pun tidak terhindarkan untuk dibanding-bandingkan dan jelas Spectre kalah telak dari semua lini!


Adegan-adegan action yang cukup eye candy pun tidak sanggup mengangkat pamor film Bond yang ke-24 ini. Kelemahan pada plot dan skenario yang‎ ditulis bersama John Logan, Neal Purvis, bersama tim, menjadi sumber kekacauan yang tidak saja menodai keberhasilan pencapaian Skyfall namun sekaligus mengkhianati penonton karena disuguhi ending paling klise tahun ini. Sayang sekali sang sutradara, Sam Mendes (yang juga peraih Oscar) harus memimpin karya film yang sungguh berakhir mengecewakan.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan