splitSPLIT 3.9/5 Stars
“Karakter, Musuh Terbesar Manusia”

Kehadiran Casey (Anya Taylor-Joy) di pesta ulang tahun Claire (Haley Lu Richardson) sebenarnya tak diharapkan. Karakter Casey yang tidak seperti gadis remaja seumurannya mengundang keengganan Claire dan Marcia (Jessica Sula) untuk lebih dekat sebagai sahabat karib. Ayah Claire (Sebastian Arcelus) yang akan mengantar mereka pulang pun menjadi satu-satunya alasan mereka berada dalam mobil yang sama.

Misteri mulai muncul ketika sosok pria tak dikenal (James McAvoy) menggantikan posisi Ayah Claire di belakang kemudi setir. Saat terbangun dari pingsan, ketiga gadis itu menemukan diri mereka sedang dikurung di ruangan sempit yang berisi ranjang dan kamar mandi dalam. Kehadiran pria yang menculik mereka bukanlah sosok sembarangan. Ia memiliki 23 karakter berbeda dalam tubuh yang sama! Mulai dari sosok pria kasar, wanita, anak kecil hingga karakter ke-24 yang buas.

Seluruh kepribadian yang berbeda itu bergantian berebut ingin muncul ke permukaan menguasai raga. Usaha melarikan diri Claire dan Marcia berujung kegagalan. Casey yang memiliki potensi (sekaligus rahasia kelam) tersembunyi berpikir keras bagaimana dapat meloloskan diri dengan memanfaatkan kepribadian penculik yang dirasa mampu membantunya. Kemunculan tokoh Dr Karen Fletcher (Betty Buckley) tak hanya efektif memberi penjelasan medis kepada para penonton, tapi juga sanggup menjadi subplot yang menjadi efek kejut tambahan di sepanjang durasi.

Reputasi M. Night Shyamalan sebagai sutradara andal mulai luntur, terutama dalam kisah ber-twist dimulai dari The Sixth Sense (1999). Sayangnya, setelah Unbreakable (2000), karya-karyanya terasa tumpul. Meski sukses secara komersil, tapi The Signs (2002) lemah di ending, The Village (2004) pun mulai tampil dengan grafik tak secemerlang di awal kemunculannya.

Kejatuhan Shyamalan mulai akut beruntun dimulai dari The Happening, The Last Airbender, hingga After Earth. Kepercayaan publik mulai kembali saat The Visit (2015) dirilis tahun lalu, meski sebenarnya juga masih goyah di sana-sini. Barulah lewat Split, Shyamalan kembali ke zona di mana ia sempat berada. Tidak segemilang The Sixth Sense memang, tapi baru di film inilah, ia sukses kembali secara komersil (3 minggu berturut-turut menjadi juara di USA Box Office) dan secara kualitas mampu dipertanggungjawabkan.

Film berdurasi 117 menit ini jelas menjadi ajang pameran akting McAvoy. Transformasi berbagai karakter mampu digambarkan dan diwujudkan lewat gestur dengan lincah, juga seakan effortless. Kekuatan McAvoy didukung oleh sinematografi dan editing yang cekatan, ilustrasi musik yang turut membangun suasana mencekam, hingga pemeran pendukung yang jauh dari kata lebay.

Kali ini Shyamalan tak perlu bergenit-genit menyimpan puntiran kisah di bagian akhir yang dimaksudkan membuat penonton terbelangak. Ia cukup rapi mengeksekusi tiap adegan, bertutur dengan bijak untuk selanjutnya melepaskan kegilaan di 30 menit akhir film. Penonton pun dibuat harap-harap cemas akan apa yang selanjutnya terjadi pada tokoh protagonis.

24 karakter yang bersemayam di tubuh sang penculik menjadi hal yang menarik, mematikan berikut memberi pemahaman baru. Bahwa sebenarnya karakter adalah yang terpenting di setiap insan. Ia mampu mengatur psikis, fisik hingga nurani. Ketika karakter tak mampu diantisipasi, maka bersiaplah menghadapi hal-hal tak terduga, bahkan terkadang sulit untuk dapat bertahan hidup. Shyamalan membungkusnya dengan kisah unik, penuh greget dan menghibur.

Seperti biasa, Shyamalan pun tak tahan untuk tak tampil eksis bercameo ria di film garapannya. Berperan sebagai apakah ia?
a. Pasien psikiater
b. Pelanggan Restoran
c. Pengawas CCTV apartemen
d. Pelatih hewan di Kebon Binatang
e. Tenaga medis ambulans

Text by Pikukuh
Photo by IMDb

Tinggalkan Balasan