spotlightSPOTLIGHT 4.3/5 STARS
“Bukti Ketekunan Mengungkap Horor Menahun‎”

Pada tahun 2001, surat kabar ‘The Boston Globes’ berhasil mengungkap kisah horor yang tersimpan rapi selama beberapa dekade: penganiayaan (baca: pelecehan) bocah berusia belasan oleh para pastor. Bukan hanya satu atau dua pelaku‎ saja, tapi berjumlah puluhan, bahkan ternyata ratusan! Sungguh kasus horor dan menakutkan.

Letupan kasus tersebut pernah mengemuka di publik, tapi dapat diredam oleh “sistem yang teroganisir”, kemudian dilupakan publik seiring berjalannya waktu. Tinggallah para korban yang melanjutkan perjalanan hidup dengan dibayangi trauma pelecehan di masa remaja‎. Bukan hal yang mudah, sangat rentan terkena depresi, bahkan hingga bunuh diri! Nggak heran, deretan korban yang dapat bertahan, alias para survivor pun saling merapat.

Pihak ‘The Boston Globes’ yang berjasa dal‎am menyingkap rahasia kelam ini adalah tim kecil ‘Spotlight’, berjumlah 4 orang saja. Dikepalai Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton) dan didukung penuh oleh Mike Rezendale (Mark Ruffallo, peran ini mendapat nominasi Aktor Pendukung Terbaik), Sascha Pfeiffer (Rachel McAdams, juga meraih nominasi Aktris Pendukung Terbaik pertamanya di film ini) dan Matt Caroll (Bryan D’Arcy James).

Semua bermula ketika kepala editor ‘The Boston Globes’ berganti menjadi orang Yahudi yang belum menikah, Marty Baron (Liev Schreiber‎). Baron terusik dengan isu lama tentang kasus Geoghan, pastor yang diduga melecehkan namun kasusnya menguap begitu saja. Melalui atasan Robby, Ben Bradlee Jr (John Slattery), tugas kompleks ini dipercayakan kepada tim Spotlight.

Bukan tugas mudah bagi personil Spotlight membedah permasalahan sensitif ini mengingat lebih dari mayoritas penduduk Amerika menganut Katolik.‎ Pelan-pelan benang kusut mulai terurai, terutama ketika berhubungan dengan pengacara nyentrik, Mitchell Garabedian (Stanley Tucci) dan ketua perkumpulan para korban survivor, Phil Saviano (Neal Huff). Kenyataan pun kian terungkap, dengan pelaku yang berjumlah puluhan. Studi literatur kepindahan pastur antar paroki pun juga dilakukan. Pola pun mulai menemukan titik terang.

Semua usaha tim Spotlight diupayakan ketika bisnis media cetak mulai mengalami tren sunset (menurun). Bisnis media mulai bergeser ke internet, dan media cetak lebih mengangkat sensasi dengan indikasi untuk popularitas dan mempertahankan eksistensinya. Keuletan tim Spotlight dan keberadaan ‘The Boston Globes’ sebagai pernyataan tegas bahwa integritas pencari berita tetap dijaga dengan baik walau situasi dunia media sedang mengalami pergeseran.

Banyaknya jumlah tokoh yang muncul secara fisik atau hanya dalam pembahasan‎ dapat membuat penonton yang tidak fokus akan mengalami kebingungan. Intensitas dialog yang rapat dan skenario yang bernyawa menuntun penonton seolah-olah berada sebagai anggota tim Spotlight yang gigih menyusun kepingan puzzle misteri pelecehan yang terkubur puluhan tahun lamanya. Nggak heran skenario film (yang juga ditulis sang sutradara Tom McCarthy dan Josh Singer) ini menjadi kandidat kuat memenangkan ‘Best Original Screenplay’ di Oscar 28 Februari nanti, setelah sebelumnya memenangkan penghargaan serupa di Writers Guild Awards.

Konflik nasional yang diulas ternyata juga mempengaruhi karakter dan kehidupan (iman) para peliputnya. Lihat saja bagaimana respon emosional Rezendale dan hubungan Pfeiffer dengan neneknya.‎ Ketika para pemuka agama tidak dapat dipercaya lagi dan sistem sudah terorganisir dengan rapi, masihkah mereka percaya kepada lembaga agama yang seharusnya memberikan rasa damai?

Para korban belasan tahun yang bergender campuran rata-rata berasal dari keluarga miskin broken home, tidak berayah, biasanya membutuhkan bimbingan dari sosok yang dianggapnya mengayomi. Ketika pemuka agama yang dianggap representasi Tuhan mendekati mereka, meng-“orang”-kan mereka, namun ternyata kemudian melecehkan secara seksual, apa yang dapat mereka lakukan? Siapa yang akan percaya dengan celotehan mereka?

Jejeran cast yang berakting solid, bahkan termasuk para korban,pastur dan pemeran pendukung lainnya, membentuk satu kesatuan yang meyakinkan. Penghargaan ‘Be‎st Ensemble Cast’ telah diraih di Screen Actor Guild Awards. Dengan segala kelebihannya, jika ternyata film ini sebagai kuda hitam menyalip The Revenant sebagai ‘Best Picture’ di perhelatan Oscar akhir bulan ini, itu dapat dikatakan cukup layak.

Text by @pikukuh22
Photo by rottentomatoes[dot]com

Tinggalkan Balasan