suicide-squadSUICIDE SQUAD 3.6/5 Stars
“Keseruan Minim Nyawa”

Melanjutkan ‎Batman v Superman: Dawn of Justice, kisah kehidupan tanpa Superman mulai terasa hampa. Bahkan kehadiran Batman (Ben Affleck, cameo tanpa namanya disebutkan di credit title) pun dirasa tidak cukup memberi rasa aman kepada penduduk Amerika. Sampai perlu membuat tim khusus yang berisi para penjahat keji (yang justru mengalami gangguan jiwa), yang dibentuk untuk mengamankan negara!

Ide gila ini digambarkan secara jelas oleh Amanda Waller (Viola Davis, dengan karakternya yang mengesankan) kepada rekannya di awal film. Penuturan Amanda menjadi perkenalan singkat para tokoh Suicide Squad alias ‘Kawanan Bunuh Diri’ kepada penonton. Anggota kumpulan tidak normal ini terdiri dari:
  • Deadshot (Will Smith), penembak bayaran yang tidak pernah meleset, juga memendam kerinduan terhadap putrinya.
  • Harley Quinn (Margot Robbie), psikiater yang semula merawat Joker (Jared Leto) di rumah sakit jiwa, tapi atas nama cinta, ia justru berbalik menjadi ikut tidak waras.
  • Captain Boomerang (Jai Courtney), pencuri ulungasal Australia.
  • Diablo (Jay Hernandez), punya kemampuan super mengendalikan api, juga menyimpan luka masa lalu akan keluarga kecilnya.
  • Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), campuran manusia berkulit buaya.
  • Enchantress (Cara Delevingne)‎, penyihir sakti yang merasuki tubuh arkeolog June Moone.
June Moone punya pacar yang setia, Rick Flag (Joel Kinnaman) yang juga diminta Waller menjadi pimpinan Suicide Squad. Sungguh tidak mudah tugas Flag berurusan dengan penjahat kelas kakap yang dipaksa menjadi pahlawan kota. Seandainya ada yang melawan pun, hanya bermodalkan aplikasi, maka para penjahat yang berniat membelot pun langsung meregang nyawa. Proposal Waller akan kehadiran Suicide Squad pun mendapat lampu hijau setelah demo mengesankan oleh Enchantress.

Konflik bermula‎ ketika ada sosok aneh yang menyerang penduduk di kereta bawah tanah, berlanjut membesar hingga ke pusat kota. Pilihan mengaktifkan para aset Suicide Squad menjadi pilihan yang suka-tidak suka dan mau-tidak mau harus diambil. So, dimulailah keseruan tiada henti sepanjang malam hingga dini hari dengan dinamika tim yang sungguh luar biasa.

Suicide Squad jauh dari kata membosankan. Seru dan mulai mencoba bersenang-senang adalah pendekatan baru DC Comics melalui Suicide Squad, setelah sebelumnya berkisah kelam lewat trilogi The Dark Knight dan Batman v Superman: Dawn of Justice. Bukan pendekatan yang sepenuhnya salah, mengingat rivalnya, Marvel telah sukses mengkombinasikan aksi seru dengan komedi kocak yang hangat.

Patut disayangkan, petualangan asik tim Suicide Squad ‎tidak ditopang oleh plot yang solid, bahkan para karakternya sebagian besar lemah secara pondasi dengan porsi yang tidak seimbang. Semuanya tampak instan dan hampa di dalamnya. Kendala klasik memang. Banyaknya anggota Suicide Squad membuat beberapa tokoh tampil numpang lewat dan belum memberi kontribusi maksimal. Masih banyak PR DC Comics, jika dibandingkan dengan Captain America: Civil War yang juga memasang belasan tokoh superhero dengan jahitan hubungan para karakter yang masih rapi dieksekusi.

Aktris peraih 2 nominasi Oscar (Doubt, The Help), Viola Davis sek‎ali lagi berkarakter kuat. Penonton dapat dibuat berempat sekaligus geregetan.‎ Hanya beberapa karakter yang beruntung diberikan latar belakang, seperti Deadshot dan Diablo. Bahkan kisah cinta awal Harley Quinn‎-Joker hanya dikisahkan sekilas. Penonton belum cukup diyakinkan mengapa mereka bisa saling tertarik: apakah Quinn yang memang secara psikologi lemah hingga rela berbalik arah atau Joker yang sengaja memanfaatkannya? Entahlah.

Porsi Jared Leto sendiri dalam memerankan Joker masih amat sangat minim. Ruang gerak yang terbatas belum mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki Aktor Pendukung Terbaik Oscar lewat The Dallas Buyers Club ini. Masih terlampau dini pencapaian Leto jika mau dibandingkan dengan mendiang Heath Ledger‎. Atau memang kehadiran Joker masih sengaja disimpan dan Suicide Squad baru sebatas perkenalan awal saja? Kemunculan Joker di seri berikutnya dalam film DC Comics patut ditunggu.

Sutradara yang juga merangkap penulis skenario, David Ayer berusaha menerjemahkan kisah komik ke dalam film berdurasi 123 menit ini. Dibanding pencapaian film Ayer sebelumnya seperti End of Watch (juga mengarahkan Jay Hernandez) dan Fury, Suicide Squad tampak seperti penurunan. End of Watch berhasil tampil menggambarkan karakter duo polisi yang digambarkan dengan grafik‎ konflik yang klimaks, sedangkan Fury adalah drama thriller perang yang sederhana namun solid.

Suicide Squad ramai secara ornamen. Penuh celotehan dialog yang cukup menghibur, aksi visual yang ‎mampu mengusir rasa kantuk, karakter-karakter berbeda dan unik bila digabungkan, lagu tema (dari Eminem hingga Stone Temple Pilots) yang silih berganti memeriahkan petualangan para jagoan tidak normal. Namun semua ornamen itu belum cukup memberi jiwa bahkan roh bagi film berbudget US$ 175 juta ini.

Suicide Squad tidaklah seburuk penilaian rottentomatoes (hingga sempat dibuat petisi agar situs review film terkenal tersebut ditutup saja), namun masih jauh di bawah pencapaian trilogi Nolan untuk film yang ber-setting alam semesta dunia DC Comics. Selamat bersenang-senang ketika menyaksikan Suicide Squad, walau rasanya semacam menghabiskan sebuah mangkok mie instan yang hangat dan gurih, namun minim gizi.
Text by Pikukuh
Photo by independent[dot]co[dot]uk

Tinggalkan Balasan