ted2Ted 2: 2.5/5 STARS

“Hilangnya Kehangatan Sebuah Guilty Pleasure”

Setelah ‘American Pie’ lebih dari satu dekade lalu, film komedi dewasa menemukan momentumnya kembali lewat beberapa judul, ‘Bridesmaids’: ‘The Hangover’ dan kisah boneka beruang yang tengil, ‘Ted’. Berangkat dari kesuksesannya, sekuel pun hadir sebagai konsekuensi logis. Sekuel dapat mengambil jalur mengeksekusi pola copy paste plot seri pertamanya seperti ‘The Hangover 2’. Opsi lainnya ialah penulis skenario harus putar otak membuat pengembangan cerita yang dimaksudkan harus lebih segalanya dari seri pertama.

Hanya beberapa penulis skenario saja yang berhasil membuat cerita sekuel dadakan (beda halnya dengan cerita yang dipersiapkan sedari awal terdiri dari beberapa seri). ‘Ted 2’ termasuk sekuel dengan pengembangan cerita berpondasi keropos alias kurang meyakinkan. Sisi lemah yang lebih penting lagi yaitu hilangnya kehangatan sebuah rasa guilty pleasure atas guyonan dewasa dan kasar yang ditebar di sepanjang film, namun di saat yang bersamaan tetap dapat mengundang empati dan mengesankan penonton. ‘Ted’ jilid pertama adalah bukti bagaimana merangkai komedi dewasa yang kocak tetapi menjadi cukup bergizi.

Sekuel dibuka dengan adegan pernikahan Ted (Seth MacFarlane) dan Tami-Lynn (Jessica Barth) di sebuah gereja. Entah bagaimana ceritanya kok sebuah gereja mampu mengesahkan pernikahan antara (yang dilihat dari kasat mata) seorang wanita dan sebuah boneka beruang yang mampu berbicara dan memiliki alam sadar. Setahun berselang, pernikahan tidaklah seindah yang Ted kira. Pertengkaran tiada henti membuat Ted mendengarkan saran agar memiliki anak, di mana tidak mudah, karena Ted tidak memiliki organ reproduksi layaknya pria.

Di sisi lain, thunder buddies of life (sahabat petir selamanya?) Ted, yaitu John (Mark Wahlberg) masih belum  bisa move on pasca bercerai dari sang isteri (Mila Kunis, tokohnya sengaja tidak dihadirkan karena tidak bisa bergabung syuting konon sehubungan dengan kehamilannya, dari Ashton Kutcher). Ted dan John saling memberi semangat terhadap masalah masing-masing, termasuk tampilnya beberapa adegan konyol berikutnya. Mulai dari pencarian donor sperma hingga ke klinik kesuburan yang berimbas tumpah ruahnya cairan semen ke sekujur John.

Karena kondisi rahim Tamy-Lynn tidak memungkinkan terjadinya pembuahan, maka satu-satunya pilihan adalah mengadopsi. Namun sungguh tidak mudah, karena sisi kemanusiaan Ted pun diuji. Apakah benar Ted di mata negara merupakan seorang manusia atau sebuah properti? Isu utama yang dibilang, penting tidak penting. Lalu Ted pun terpuruk ke titik rendahnya: dipecat, bahkan pernikahannya pun dibatalkan!

Sebagai pengganti Mila Kunis, dihadirkan juga tokoh wanita, Samantha (Amanda Seyfried), pengacara muda yang senang teler (seperti halnya John dan Ted) dan bersedia pro bono (tidak dibayar) demi mendampingi Ted yang menggugat haknya sebagai ‘manusia’.  Adegan persidangan sebenarnya cukup menarik tetapi memang hanya mendapat porsi secukupnya. Kesembronoan dan kebengalan Ted tetap menjadi jualan utama. Sayangnya lebih banyak lelucon yang gagal daripada yang menghibur di sepanjang film.

Chemistry Ted-John-Samantha berusaha dibangun, namun tetap belum bisa (minimal) menyamai apa yang telah dicapai seri pendahulunya. Seri pertama lebih berfokus kepada hubungan persahabatan Ted-John yang mulai terasa galau ketika John mulai dewasa dan mengambil keputusan untuk menikah dan memulai hidup dewasa yang sesungguhnya. Premis baik tersebut dieksekusi dengan fokus sekaligus tidak diduga.

Pada sekuelnya ini, plot dan skenario yang tidak hanya membuat penonton jengah, namun merasa bosan, bahkan lelah selama 115 menit durasi alias hampir 2 jam. Kemunculan cameo seperti Liam Neeson tidak banyak membantu jika tidak mau dikatakan sia-sia. Twist di ending yang ternyata adalah lelucon terasa sungguh basi.

Bagaimanapun juga ‘Ted 2’ masih jauh lebih baik daripada komedi MacFarlane tahun lalu, ‘A Million Way To Die In The West’ yang menjijikkan, bahkan mendapat banyak nominasi kategori terburuk di ‘Razzie Awards’. Jika melihat ke belakang seri ‘Ted’ sebelumnya, sekuel ini adalah suatu kemunduran dari lini komedi dewasa yang liar, sekaligus sisi drama yang seharusnya dapat menghangatkan hati penonton selepas beranjak meninggalkan kursi bioskop.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan