Teenage-Mutant-Ninja-Turtles-Out-of-ShadowsTEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOW 1.8/5 Stars
“Pengulangan Tanpa Greget”

2 tahun setelah seri pertamanya yang cukup sukses secara komersil, Teenage Mutant Ninja Turtles: Out‎ of The Shadow hadir kembali dengan formula yang tidak jauh berbeda. Masih diproduseri oleh Michael Bay dan dimainkan juga oleh Megan Fox sebagai April O’Neill, daya tarik (manusia) utama. Fokus cerita masih pada 4 kura-kura hasil mutan dengan nama yang dipersingkat supaya lebih mudah dan kekinian.

Leo (Leonardo) memimpin, Raph (Raphael) yang sporty, Donnie (Donatello) kutu buku yang lihai dalam hal perangkat teknologi, dan Mike (Michaelangelo) yang mengambil peran humoris, masih kekanakan serta hobi memakan pizza. Musuh mereka di seri pertama Shredder (Brian Tee), diceritakan bebas dengan bantuan alat transporter yang rupanya digagas oleh‎ makhluk bernama Krang (Brad Garrett). Krang sendiri memiliki agenda untuk menguasai bumi, hingga membuka portal atmosfer alam semesta.

Tema maniak haus kekuasaan yang ingin menguasai dunia sudah jamak menjadi motivasi utama antagonis di berbagai film. Sama sekali bukan hal baru yang menyegarkan. Yang termasuk baru kita tonton adalah ambisi En Sabah Nur di X-Men Apocalypse.

Tema usang tersebut meningkat ke level membosankan ketika dicampur dengan subplot adanya lubang portal raksasa yang akan menjadi sumber kehancuran bumi. Bukan hal baru juga, mengingat seri perdana Avengers juga mengambil pendekatan yang serupa, namun dieksekusi jauh lebih mengesankan dibanding film ini.

Peran seluruh karakter manusia pun hanya tampil menjadi pendukung 4 kura-kura bersaudara. Tidak ada pengembangan karakter dan hanya berhenti sebatas dua dimensi saja. Penonton pun menjadi tidak peduli terhadap nasib para tokohnya. Kedekatan emosi apalagi empati absen dihadirkan sama sekali.

Subplotnya pun sangat standar alias mudah ditebak. Seperti seri blockbuster lainnya, di sekuel, mulai dikisahkan para anggota jagoan kita berseberangan pendapat, berargumen lalu kemudian berpisah dan kembali bersatu lagi. Resep klise seperti itu (ingat Captain America Civil War atau Batman v Superman?) masih dipraktekkan mentah-mentah oleh Dave Green sebagai sutradara.

Hal-hal menjemukan tersebut masih diperparah dengan kemunculan makhluk jadi-jadian yang menggelikan, sekaligus mengganggu. Bagian komedinya pun dipaksakan dan semakin tidak tersenyum, apalagi tertawa. Satu-satunya harapan ialah melihat tampilan para kura-kura ninja dalam wu‎jud manusia. Sayangnya impian tersebut pun tidak dieksekusi.

‎Dimaksudkan menjadi box office, di periode yang sama hasil peredaran film ini masih jauh di bawah seri pendahulunya. Pengulangan yang berniat menuai pundi-pundi uang sudah kehilangan gregetnya dan terjun bebas menjadi salah satu kandidat film terburuk tahun ini.

Text by Pikukuh
Photo by newsmaritime[dot]com

Tinggalkan Balasan