the 5th waveTHE 5th WAVE 2.7/5 STARS
“Gado-Gado Kiamat, Alien, Remaja Tanggung yang Membuat Mual”

Ada apa dengan film bertema remaja pasca “kiamat” (post-apocalypse)? Setelah seri The Hunger Games berakhir dengan tren pendapatan yang menurun, lalu seri Divergent dan The Maze Runner tampaknya juga menyusul, kini hadir lagi tema serupa. Masih perlukah kita dengan varian sejenis yang menimbulkan dejavu bagi penonton?

Diangkat dari novel berjudul sama karangan Rick Yancey, The 5th Wave berupaya lebih banyak menambah berbagai elemen sekaligus: bencana kiamat, alien, remaja tanggung, kisah cinta ala kadarnya, hubungan keluarga yang terpisah, hingga sosok berkuasa yang memutarbalikkan fakta para jagoan muda kita. ‎Keseluruhan entitas tersebut diolah laksana makanan gado-gado yang terdiri dari banyak bahan baku. Sayangnya rasa yang dihadirkan menjadi campur aduk, berantakan, dengan bumbu yang encer sehingga membuat para penonton merasa mules dan mual.

Penyebab mual disebabkan karena:

  1. Plot dibangun dari kedatangan alien yang armadanya sudah berada di langit Amerika. ‎Mulai gelombang pertama sampai keempat yang sebenarnya mulai menyita perhatian, pastinya dibantu dengan visual efek yang lumayan. Namun plot mulai kendor, bahkan berlarut-larut (dragging) saat memasuki gelombang kelima hingga menjelang akhir. Alurnya bahkan mengingatkan penonton akan The Maze Runner Scorch Trial atau Insurgent atau film-film bertema serupa lainnya.
  2. Chloe Grace Moretz (Cassie Sullivan) berupaya menampilkan akting yang sesuai dengan perannya. Namun sayangnya, usaha Moretz tidak didukung oleh alur atau subplot yang justru menggelikan serta ditopang oleh skenario yang lemah.
  3. Kemunculan tokoh jagoan remaja cowok ganteng, Evan Walker (Alex Roe) yang tiba-tiba, entah darimana, menyelamatkan Cassie (berkali-kali) di saat-saat genting. Belum lagi ditambah dialog Evan yang super picisan alias norak pada momentum yang sungguh tidak pas.
  4. Umumnya tema bencana tetap berupaya mengangkat humanisme, alias hubungan antar manusia atau sesama anggota keluarga. Maksudnya jelas, diada(ada)kan sebagai faktor penyeimbang, walaupun mayoritas gagal total dalam eksekusinya. Faktor utama kegagalannya karena digarap seadanya, dengan‎ lebih menitikberatkan pada efek visual. The 5th Wave mengangkat hubungan Cassie yang berusaha menyusul sekaligus menyelamatkan adiknya, Sam Sullivan (Zakary Arthur) . Lagi-lagi yang menjadi faktor pemisah mereka sangat konyol, karena boneka beruang semata.
  5. Tidak sah menjadikan remaja sebagai titik sentral suatu kisah tanpa menampilkan konflik cinta segitiga. The 5th Wave tetap mengambil formula serupa walau dengan amat tanggung. Hubungan Evan-Cassie-Ben Parish (Nick Robinson) masih berada di level permukaan. Kehadiran masing-masing tokoh belum digarap dengan optimal. Sementara Evan pun seperti dapat ditebak, terlibat cinta kilat di tengah hutan dengan Cassie.
  6. Pengambilan gambar yang jauh dari kata mengesankan. Tidak mengumbar visual efek, namun pada setiap adegan aksi terlihat sengaja sangat dibuat cepat (fast-forward), entah dengan alasan apa. Bukan hanya membuat penonton tidak nyaman, hal ini malah menonjolkan kelemahan visual film ini.
  7. Minimnya karakter villain yang karismatik membuat The 5th Wave kehilangan greget dalam membangun konflik. Kehadiran tokoh petinggi Angkatan Darat Amerika, Colonel Vosch (Liev Schreiber) dan Sergeant Reznik (Maria Bello) berlalu begitu saja, tanpa memberikan signature yang berarti.
Dengan seluruh kelemahan yang ter‎saji, film yang juga diproduseri Tobey Maguire ini tidak menawarkan hal baru yang menarik sama sekali. Ketika layar menampilkan lagu tema, Alive (Sia), penonton pun bersyukur bahwa The 5th Wave telah usai dan berharap semoga tidak akan dibuatkan lanjutannya.


Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan