angry birds movie
THE ANGRY BIRDS MOVIE 2.8/5 Stars
“Hanya Sebatas (Berusaha) Melucu” 

Pertama kali diluncurkan pada akhir 2009, game The Angry Birds akhirnya diadaptasi menjadi film animasi berdurasi 97 menit. Film yang ditulis oleh Jon Vitti ini berfokus pada Red (Jason Sudeikis), burung merah beralis tebal yang gampang marah. Ia sedari kecil hidup menyendiri tanpa orangtua dan sahabat, begitu juga ketika dewasa.

Di awal film dikisahkan Red mengalami masalah, Hakim Pengadilan, memutuskan Red harus menjalani sesi pengendalian amarah di bawah arahan Matilda (Maya Rudolph)‎. Bersama dengan burung lain yang memiliki isu kemarahan yang sama, Chuck (Josh Gad), Bomb (Danny McBride) dan Terrence (Sean Penn), Red tidak terlalu antusias dan tidak berusaha berbaur.

Sampai suatu ketika datang kapal berisi kawanan babi hijau, pimpinan Leonard (Bill Hader) yang ramah kepada kawanan burung di pulau mereka. Hanya Red and the gang yang dapat mencium agenda tersembunyi Leonard, sementara penduduk pulau yang lain masih terpesona dengan tampilan dan sikap Leonard. Ketika intuisi Red ternyata terbukti benar, kawanan babi telah kabur dan kini menjadi tugas seisi pulau untuk mengambil kembali kepunyaan mereka dari para babi.

Kisah sederhana sesuai permainannya ini diinterpret‎asikan dengan visual cerah menawan dan kelucuan yang dicoba ditampilkan sepanjang durasi film karya duo sutradara Clay Kaytis dan Fergal Reilly. “Sederhana” jelas berbeda arti dengan “dangkal” atau “picisan”.

Yang terjadi adalah banyak kelucuan slapstick yang terlalu sering muncul hingga minimnya moral yang dapat dibawa penonton kanak-kanak selepas film usai. Memang Red dari masa kecil ditampilkan berbeda dengan teman sebayanya, namun setelah dewasa, isu “be yourself” ini seperti putus begitu saja di tengah kisah. Film ini sibuk mempertontonkan kekonyolan dan serangan kawanan‎ burung versus babi yang juga berakhir komikal.

Jeda waktu 6 tahun lebih semenjak kemunculannya membuat film yang dirilis oleh Sony Pictures Animation ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh penggemar setianya dengan basis fans yang sebenarnya tidak sedikit. Namun di sisi lain bisa juga film adaptasi ini telah kehilangan momen terbaiknya karena 6 tahun bukan waktu yang sebentar. Kini tergantung para penonton untuk memutuskan apakah The Angry Birds Movie itu pantas dinanti atau animasi yang telah melewatkan masa emasnya?

Jauh berbeda dengan kartun‎ Disney-Pixar, film ini tampil berusaha keras untuk melucu dan melupakan esensi pesan yang berguna bagi penonton. Potensi pesan moral (pentingnya kerjasama, persahabatan, berani meminta maaf, belajar bersabar dan berbagai nilai) lainnya hanya muncul sekelebat tertumpuk oleh riuhnya aksi yang sebenarnya juga tidak layak dikenang oleh penonton. Beberapa tawa kecil muncul namun apakah itu saja yang kita cari dari sebuah film animasi?

Dibanding animasi dari Sony Pictures Animation lainnya (dwilogi Rio, seri Ice Age), The Angry Birds Movie adalah yang terlemah. Namun mengingat potensinya yang besar di seluruh dunia, tidak menutup kemungkinan The Angry Birds Movie akan dipersiapkan sekuelnya. Jika hal itu terjadi, maka butuh perombakan besar-besaran dari sekedar mengilustrasikan alasan mengapa para burung begitu marah terhadap kawanan babi. Semoga cukup layak untuk difilmkan kembali.

Text by Pikukuh
Photo by angrybirds-movie[dot]com

Tinggalkan Balasan