The-Boy2016

THE BOY 3.5/5 STARS
“Menguji Kewarasan Ketika Boneka Dianggap Sebagai Makhluk Hidup”
Kalau boneka Chucky belum‎ dianggap menakutkan untuk menebar kengerian, juga Annabele versi spin-off yang dirasa hambar, so perlu sosok boneka lain yang lebih menggedor nurani penonton. Kali ini STX dan Lakeshore Entertainment menghadirkan sosok sentral boneka bocah lelaki dari porselen, yang lebih dikenal sebagai The Boy. Fisik bonekanya tidak terlalu menakutkan, tapi ternyata menyimpan amunisi serem lain.

Greta‎ (Lauren Cohan, Game of Thrones), gadis Amerika yang berusaha meninggalkan masa lalunya dengan hijrah ke daratan Inggris untuk bekerja sebagai pengasuh anak. Tinggal di rumah (baca: puri) mewah milik pasangan pasutri Mr dan Mrs Heelshire, tidak membuatnya gentar, sampai di suasana perkenalannya dengan anak lelaki Heelshire. Tidak seperti bocah lainnya, putra Hellshire, yang bernama Brahms adalah sebuah boneka!

Greta yang menganggap ini sebuah lelucon, perlahan mulai mencoba beradaptasi. Kepergian pasangan Hellshire dengan menitipkan 10 “Daftar yang Harus Dilaksanakan” oleh Greta memancing rasa penasaran. Belum lagi ditambah dengan barang-barang pribadi Greta yang menghilang, samoai ia tidak sengaja terkurung di loteng. Semenjak kejadian aneh tersebut, Greta yang semula cuek berubah menjadi lebih perhatian dengan melaksanakan titah sang majikan.

Proses adaptasi Greta dengan Brahms memunculkan tanda tanya bagi Malcolm (Rupert Evans, Hellboy), kurir pengiriman barang keluarga Hellshire yang rutin datang ke kastil tersebut. Kedekatan Greta-Malcolm ternyata memancing emosi tersendiri bagi pihak lain yang akan diketahui lebih jelas di bagian klimaks.‎ Apakah semua ini hanyalah isu pada kewarasan Greta atau ada hal besar lain yang perlu disibak?

Pendekatan film The Boy cukup mengecoh penonton dengan rapi. Dibawa ke dalam atmosfer horor yang kental, film ini berbalik arah menjadi thriller, terutama di sepertiga akhir durasi. Bukan keputusan yang buruk, mengingat tipikal film horor lainnya dengan tokoh utama boneka yhampir selalu mengambil premis utama: sang boneka dirasuki roh jahat sehingga mencelakai manusia.‎ Untungnya jalur alternatif yang ditempuh The Boy membawa angin perubahan.

Sayangnya beberapa adegan yang sungguh teramat standar untuk genre ini bertebaran di sepanjang durasi film. Adegan Greta yang menjadi korban teror divisualisasikan 2 kali kalau hal itu hanyalah mimpi,  menjadi gimmick (yang tidak perlu dan) sia-sia. Hanya untuk membuat kaget.

Chemistry Lauren dan Rupert mulai terbangun, meski belum optimal. Ketegangan diciptakan dari lanskap kastil yang digali dari berbagai sudut ruangan, ditambah dengan scoring yang mendukung serta jumlah pemain yang tidak banyak, so memaksa penonton untuk lebih fokus pada penuturan kisah.

Sebagai film yang memancing rasa penasaran di awal tahun‎, thriller ini telah melaksanakan tugasnya dengan pantas, meskipun masih banyak yang perlu dibenahi. Terlebih, untuk sub-genre teror boneka, film ini telah melampaui pencapaian Chucky atau Annabelle.


Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan