The_Good_DinosaurTHE GOOD DINOSAUR 4/5 STARS
“Kesederhanaan Melawan Rasa Takut”

Setelah tahun lalu absen dari kancah animasi layar lebar, Pixar (tetap bersama dengan Disney) tidak tanggung-tanggung merilis 2 karya di sepanjang 2015 ini! Penonton sempat dibuat takjub dengan visualisasi imajinasi cara bekerja otak (dan emosi) manusia‎ yang dideskripsikan lewat Inside Out. Di karyanya yang kedua tahun ini, Pixar kembali ke premis yang telah lama dikuasainya: makna sebenarnya dari keluarga dan bagaimana melawan rasa takut sekaligus penerimaan (berdamai) terhadap diri sendiri.

Adegan awal memuat pertanyaan besar: bagaimana jika‎ asteroid yang konon menabrak bumi dikisahkan meleset sehingga spesies dinosaurus masih hidup? Dengan adanya kaum Dino yang tak punah, maka cerita beralih ke keluarga kecil spesies Apatosaurus. Dari ketiga telur yang menetas, rupanya telur terakhir yang tampak besar hanya berisi mini Apatosaurus yang penakut dan diberi nama Arlo. Ketakutan Arlo kian parah bahkan ketika takut terhadap para ayam peliharaan keluarga mereka! Gelagat Arlo yang sungguh berbeda bila dibandingkan kedua kakaknya, membuatnya sering di-bully.

Sang ayah yang berusaha ingin menumbuhkan keberanian kepada putra bontotnya, justru harus menemui ajalnya secara tragis. Rasa bersalah pun menambah akumulasi rasa takut yang menghinggapi benak Arlo. Perkenalan Arlo dengan bocah purba (yang kemudian dipanggilnya ‘Spot’) secara tidak sengaja justru membuat Arlo terpisah jauh ‎dari keluarganya. Perjalanan menemukan keluarganya kembali menjadi proses berliku yang harus dihadapi Arlo.

Nilai unggul film ini terletak pada kesederhanaannya bertutur dengan didukung visual yang menyenangkan sekaligus hangat. Setiap anak pasti menginginkan sesuatu yang membuatnya layak dipuji atau bahkan membuat keluarganya bangga. Di dalam proses pencapaiannya, banyak rintangan yang harus dihadapi, terutama rasa takut akan apapun yang sering datang.

Kecemasan yang dihadapi hampir setiap anak diwujudkan dalam makhluk dinosaurus hijau yang menggemaskan, jauh dari kata menakutkan. Tema yang mengena membuat penonton merasa terikat dengan kisah tokoh utamanya.‎ Dalam hal ini Pixar telah mengeksekusi tugasnya dengan cermat.

Plot yang berjalan linear dan mudah tertebak dapat menjadi suatu keuntungan atau kelemahan tersendiri. Keuntungannya tentu saja menghibur para penonton kanak-kanak, dilengkapi visual chemistry Aglo dan Spot yang‎ saling mendukung. Kelemahan film ini yang nyaris tanpa kejutan untung saja tidak sampai mencapai taraf bosan.

Tema keseharian melawan rasa takut dibawakan dengan cukup sederhana dan dapat diserap oleh penonton segala usia dengan efektif. Walaupun masih kalah “bergizi” dari karya Pixar yang lain, setidaknya film ini masih layak masuk kategori layak tonton dan dikenang publik.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan