hunger games mockingjayTHE HUNGER GAMES MOCKINGJAY Part 2 4.3/5 STARS
“Akhir Perjuangan Sang Simbol Pemberontak”

 Tanpa basa basi, tayangan awal film yang terinspirasi dari novel Mockingjay karya Suzanne Collins ini langsung menyorot tokoh jagoan kita, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) yang menderita memar di leher akibat cekikan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang telah dicuci otak oleh Capitol.‎ Katniss yang sudah lelah menjadi bagian dari propaganda, memutuskan untuk benar-benar terjun ke medan pertempuran, tidak hanya sekedar simbol sekaligus motivator belaka. Keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan kepentingan Presiden Alma Coin (Julianne Moore).

Di sisi lain, Presiden Snow (Donald Sutherland) mulai melancarkan serangan alias jebakan kepada Katniss and the gang yang berusaha menguasai Distrik 2, jalan strategis‎ menuju tampuk kepemimpinan Capitol. Di tengah perjuangan, tidak sedikit rekan Katniss yang harus meregang nyawa. Tragedi yang kian membuat Katniss merasa bersalah, apalagi seluruh tindakannya murni didasari atas inisiatifnya sendiri. Yang paling membuat Katniss menyesal tentu saja kehilangan orang terdekatnya menjelang penghujung film.

Seri Mockingjay bagian pertama yang dirilis tahun lalu memang minim aksi (jika tidak mau dibilang bertele-tele). Sisi lebihnya adalah pondasi yang cukup efektif untuk membangun ketegangan di seri lanjutannya ini. Perangkap yang ditebar Capitol, mulai dari ranjau, black tar (minyak hitam pekat yang mematikan) hingga makhluk jadi-jadian (mutant) seperti menjadi ujian di arena hidup-mati pertarungan Hunger Games di jilid 1 dan 2.

Adegan akhir yang sederhana justru sebenarnya efektif. Namun perjalanan mencapai kesederhanaan itu terasa hampa karena ditopang oleh editing yang lemah‎.  Duo editor, Alan Edward Bell dan Mark Yoshikawa terasa tidak sabar menyudahi film ini terutama di 30 menit akhir film. Jahitannya terasa tidak rapi, kasar, lompat-lompat bahkan mungkin agak membingungkan. Sangat terasa Bell dan Yoshikawa ingin terburu-buru pada ending, tanpa memberikan penekanan di bagian-bagian tertentu, dalam artian saat-saat genting hidup Katniss.

Selain teriakan Katniss saat melihat kucing Prim di rumah lamanya, bagian akhir Mockingjay 2 jauh dari kata memorable atau mengesankan. Kesalahan utama bertumpu pada departemen editing. Seandainya diberikan porsi lebih pada pengembangan emosi karakter Katniss dan sebab-musabab mengapa ia mengambil beberapa keputusan penting (dan genting!), niscaya jilid pamungkas ini akan jauh lebih klimaks dan menanjak dramaturginya.

Film ini menampilkan performa terakhir dari Phillip Seymour Hoffman. Akting kelas Oscar-nya dan Julianne Moore memang tidak diberikan keleluasaan ruang gerak yang optimal. Jennifer Lawrence tampil‎ konsisten dengan peran Katniss di seri-seri sebelumnya.

Kisah romansa alias kebimbangan Katniss antara memilih Peeta-Gale dituntaskan di beberapa adegan final. Terasa halus dan membiarkan penonton versi film menginterpretasikan sendiri argumen Katniss terhadap opsinya. Jauh lebih berkelas daripada kegalauan menahun‎ Bella Swann yang harus memilih Edward vs Jacob (Twilight).

Berakhir sudah perjuangan Katniss vs Capitol, sekaligus akhir dari seri The Hunger Games. Sebagai pelopor layar lebar dari tema young adult post-apocalypse, The Hunger Games lewat Mockingjay Part 2 menjalankan tugasnya sebagai penutup dengan adegan klimaks yang anti mainstream (sungguh beda bila dibandingkan dengan pertempuran‎ musuh bebuyutan serupa, Harry vs Voldemort di Deathly Hallow Part 2), walaupun sangat disayangkan kekacauan di lini editing-nya.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan