LittlePrinceTHE LITTLE PRINCE 3.3/5 STARS
“Hanya Sekedar Fantasi Dengan Tokoh Tak Bernama”

Tokoh utama terpusat pada seorang anak perempuan yang sudah sangat dipersiapkan oleh sang ibunda yang ambisius dalam menghadapi masa depan si anak, termasuk persiapannya masuk ke sekolah bergengsi, The Werth Academy. Demi alasan itu pula, mereka mencari dan berpindah domisili. Di rumah barunya, sang anak secara tidak sengaja mengalami insiden dan justru berkenalan dengan tetangga sebelah rumah, seorang penerbang yang berusaha menjalankan kembali pesawat terbang usangnya. Awalnya dianggap mengganggu, tapi lambat laun tumbuh persahabatan antara sang pilot dan si anak, yang justru kian mengganggu rencana (yang dianggap) sempurna oleh ibunda.

Persahabatan mereka berjalan seiring kisah penerbang yang berkenalan di tengah Gurun Sahara dengan seorang bocah lelaki, yang dipanggil Prince. Penonton pun diajak berpetualang bersama Prince, berpindah planet, bertemu tokoh-tokoh unik, sampai akhirnya anak perempuan menemui manifestasi berbagai tokoh cerita tersebut dalam kehidupan nyata.

Animasi produksi Perancis ini diangkat dari buku karangan Antoine de Saint-Exupery dan dikomandoi Mark Osborne, sutradara Kung Fu Panda. Bahkan versi bioskopnya pun dibuat dalam 2 versi bahasa, Inggris dan Perancis. Sayangnya animasi yang terlihat cukup manis dipandang, tidak didasari oleh kekuatan plot ataupun kejelasan alur bertutur. Kisah antara dunia nyata dengan cerita sang penerbang tidak mulus dikawinkan. Sungguh berpotensi membuat tersesat penonton, terutama para anak yang menjadi target utama film ini.

Moral dari film yang tidak menyebutkan nama tokohnya (kecuali Mr Prince) ini sebenarnya berpotensi lebih baik lagi untuk disampaikan. Nyatanya obsesi sang bunda yang telah dideskripsikan dengan jelas di awal film, menguap begitu saja. Nyaris tanpa konklusi, kecuali adegan pasangan ibu-anak memandang bintang di bagian akhir film. Persahabatan lintas generasi antara sang penerbang dan si anak masih sangat jauh chemistry-nya, bila dibandingkan dengan chemistry antara seorang kakek dan anak lelaki di animasi peraih Oscar keluaran Pixar, Up.

Film ini tidak hanya dipenuhi oleh pengisi suara berbakat, seperti Rachel McAdams, Paul “Ant-Man” Rudd, tapi juga para pemenang dan peraih nominasi Oscar seperti Jeff Bridges, James Franco, Marion Cotillard, Albert Brooks, Paul Giamatti. Memang sih, mereka memang tidak dapat berbuat banyak dengan kisah yang relatif telah baku.

Nuansa fantasi dan petualangan yang disajikan dapat dipandang penuh simbolik dan metafora. Bukan hal yang selalu buruk, tetapi dalam kasus ini, The Little Prince seolah kebingungan menjejakkan kaki antara dunia realita dan fiksi. Memang mungkin dapat dikategorikan bukan animasi yang mudah dicerna, bahkan mungkin mengundang rasa bosan atau mengantuk. Opsi lainnya adalah hanya menjadi penonton yang duduk manis, mengikuti alur fantasi yang disajikan. Walaupun sebenarnya pesan yang “berat” dapat dibungkus dengan tampilan dan alur yang menarik, seperti halnya  keluaran Disney-Pixar. Hal ini menjadi sumber utama kegagalan The Little Prince dalam mentransformasikan karya sastra ke medium layar lebar.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan