UNCLE“The Man from U.N.C.L.E” : 3.7/5 STARS

“Adaptasi Kekinian Aksi Mata-Mata Berkonsep Retro”

Tahun 2015 telah penuh sesak oleh film bertema spionase. Dimulai dari ‘Kingsman: The Secret Service’ yang menyegarkan, ‘Spy’ yang lebih komedik, ‘Mission Impossible: Rogue Nation’ yang penuh aksi menggila, hingga seri  terakhir agen 007, ‘Spectre’ menjelang akhir tahun nanti. Saat film-film ber-budget besar musim panas mulai mereda, hadirlah film mata-mata (lagi) yang diangkat dari serial televisi yang dahulu diproduksi dan ber-setting tahun 1960-an. Tetap mempertahankan tema retro dengan atmosfer yang sama, film adaptasinya ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh mantan suami Madonna, Guy Ritchie (paling dikenal lewat karyanya, dwilogi ‘Sherlock Holmes’).

Fokus utama berpusat pada 3 tokoh jagoan kita,  agen CIA Napoleon Solo (Henry Cavill, ‘Man of Steel’), agen KGB Rusia Illya Kuryakin (Armie Hammer, ‘The Social Network’, ‘The Lone Ranger’) dan montir cantik Gaby (Alicia Vikander, ‘Ex Machina’). Solo dan Kuryakin yang awalnya sama-sama “mengejar” Gaby kini ditugaskan bersama untuk menelusuri keberadaan ayah Gaby melalui Pamannya, yang bernama Rudi (Sylvester Groth) yang bekerja untuk simpatisan Nazi. Mereka bertiga  harus bekerjasama menghentikan diaktifkannya rudal nuklir yang dapat disalahgunakan pihak atau negara manapun, terlebih isu sensitif Nazi pada jaman tersebut. Tokoh penjahat dipercayakan pada duo Victoria (Elizabeth Debicki) dan Alexander (Luca Calvani).

Adegan-adegan aksi yang ditampilkan memang tidak membuat penonton terhenyak seperti halnya aksi Tom Cruise. Bahkan adegan-adegan komedinya juga tidak sekocak Mellisa McCarthy yang memang sudah menjadi zona nyamannya. Namun film ini terlihat tidak ambisius dalam menjalankan perannya dalam memadukan unsur aksi dan komedi. Terlihat tidak ada unsur yang terlalu keras dipaksakan. Adegan aksinya masih terbilang cukup wajar untuk ukuran film agen rahasia.

Chemistry antar pemain yang hampir seluruhnya berfisik rupawan cukup terbangun dengan lancar. Bromance Cavill-Hammer dengan tambahan Vikander di antaranya tampil manis, tidak berlebihan dan menyenangkan. Solo dan Kuryakin memang ditampilkan bak anjing dan kucing, banyak ketidakcocokan namun sebenarnya saling membutuhkan dan melengkapi. Di sisi antagonis, Debicki terlihat berusaha menjalankan peran sebagai femme fatale, walaupun sebenarnya masih jauh dari kata optimal. Potensinya masih belum digali maksimal.

Plotnya sendiri terbilang cukup bahkan sangat sederhana untuk genre setipe. Latar belakang para tokoh utama yang kelam hanya dijelaskan sekilas, karena memang masih dalam tahap episode pengenalan karakter-karakternya. Konflik berlapis disajikan sesederhana mungkin di depan layar. Namun seperti layaknya film mata-mata lainnya, maka tetap wajib tampaknya dihadirkan puntiran cerita. Twist yang hadir di bagian dua pertiga durasi film cukup greget.

Ending-nya pun cukup membahagiakan, bahkan tampaknya sengaja dipersiapkan bagi sekuelnya jika pundi-pundi pendapatan debutnya ini berlimpah ruah. Ciri khas Guy Ritchie dalam film ini sangat terasa sekali terutama signature-nya dalam banyak hal mulai dari editing, ilustrasi musik hingga tone keseluruhan film.

Konsep retro atau vintage agen rahasia cukup berhasil diadaptasi secara kekinian. Ritchie pernah sukses mengawal dwilogi ‘Sherlock Holmes’ dengan konsep yang tidak berbeda jauh. Memang bukan film mata-mata terbaik atau terseru tahun ini, namun hadirnya film ini memberi tampilan berbeda yang cukup asik untuk genre serupa.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan