the other side of the door

THE OTHER SIDE OF THE DOOR  2.7/5 STARS

Tema supranatural, kembali dari kematian, bukanlah hal baru. Usang dan jauh dari kekinian. Sosok yang membawa teror bagi yang didatanginya. Jika nggak beruntung, yang mendatang rame-rame bareng makhluk kegelapan lainnya. Kalau plot ini yang dipilih, itu butuh kecerdasan dan kegesitan ekstra agar tetap menarik bagi penonton, khususnya pecinta genre ini.

Nyatanya The Other Side of The Door nggak punya faktor itu. Satu-satunya hal menarik di film dengan setting India ini adalah penampilan sang aktris utama, Sarah Wayne Callis yang terlihat berusaha membuat karakternya lebih bernyawa. Sayangnya usaha Callis tampak percuma karena karakterisasi yang stereotipe, skenario yang payah dan alur yang klise.

Maria (Sarah Wayne Callis) trauma tingkat dewa ketika kehilangan sang putra, Oliver dalam kecelakaan mobil yang membuatnya harus memilih: menyelamatkan Oliver atau putri bungsunya Lucy (Sofia Rosinsky). Ia mendengar saran asisten rumah tangganya, Piki, agar datang ke kuil terabaikan di tengah hutan untuk mengucapkan salam perpisahan bagi Oliver. Konon katanya, kuil itu adalah pintu gerbang antara dunia hidup dan mati. Satu pesan sakral agar tidak membuka pintu kuil ketika berbincang dengan Oliver diabaikannya. Akibatnya, maut pun mengikuti Sarah dan sekelilingnya.

Deretan adegan yang bermaksud untuk mengagetkan penonton tetap hadir, namun semakin lama justru membosankan. Setting India yang ditampilkan cenderung kumuh dan penuh misteri sebenarnya dapat lebih dioptimalkan lagi untuk membangun atmosfer. Mendekati akhir, ritme The Other Side of The Door mulai membaik, tapi tidak mampu menyelamatkan keseluruhan film. Untuk genre horor, The Other Side of The Door terbilang masih seperti pakem yang sudah ada, jauh dari mengguncang penonton.

Text by @pikukuh22
Photo by comingsoon[dot]com

Tinggalkan Balasan