The RevenantTHE REVENANT 4.5/5 STARS
“Motivasi Terbesar Bertahan Hidup Itu Bernama Dendam”

The Revenant, yang telah memborong 3 penghargaan Golden Globes Awards (Best Picture, Best Director, Best Actor)‎ dan mendapat nominasi Oscar terbanyak tahun ini di 12 kategori, sangat layak (dan harus) ditonton di layar lebar. Pengalaman sinematik yang disajikan sang sutradara, Alejandro Gonzalez Inarritu, bersama timnya sungguh impresif. Ada beberapa momen yang tidak mudah dilupakan, bahkan setelah meninggalkan kursi bioskop sekalipun.

Pujian khusus layak diberikan‎ kepada sinematografer peraih 2 Oscar, Emannuel Lubezki (Gravity, Birdman) yang berhasil menampilkan citra lanskap menawan di setiap bingkai adegan. Kerjasama kedua Lubezki dengan Inarritu tampak jelas solid. Pengambilan gambar yang seolah-olah kontinu pada Birdman sempat terulang pada The Revenant di beberapa adegan. Opsi ini membawa efek seolah-olah penonton berada di set yang sama dengan para aktor.

Pengadeganan tertentu menggunakan close-up untuk suatu penekanan tertentu sekaligus benar-benar menangkap ekspresi para aktor. Uap nafas para aktor pun sempat tertangkap di atas layar. Bahkan ketika adegan pertarungan percikan darah ikut muncrat dan butiran salju menempel ke layar kamera. Sekali lagi‎ berbagai hal detil teknis ini mengagumkan.

Tampilan visual menjadi unsur pendukung yang kokoh, tanpa melupakan unsur inti lainnya: akting, plot, editing sekaligus skenario. Walaupun skenario The Revenant tidak masuk nominasi di Oscar tahun ini, tapi skenario ini (masih) sangat lugas, sesuai dengan spirit film ini.

Diambil dari kisah nyata, film ini mengambil premis, seseorang‎ yang ditinggalkan mati untuk kemudian bertahan hidup. Kisah nyata tersebut juga yang mengilhami The Man in The Wilderness (1971). Tema sepanjang masa itu menjadi tugas maha dashyat Inarritu dan tim untuk menginterpretasikannya dengan kekinian, sekaligus tantangan besarnya sebagai sineas unggul.

Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) terluka parah setelah diserang beruang grizzly dalam misi kembali ke benteng pertahanan. Misi yang dipimpin Kapten Hendry (Domnhal Gleeson) awalnya hanya untuk mengumpulkan kulit binatang‎ berakhir kekacauan setelah diserang penduduk lokal dan hanya menyisakan 10 orang saja.  Glass yang mengetahui seluk beluk rute perjalanan ditemani sang anak, Hawk (Forrest Goodluck) yang ber-ibu-kan seorang Indian.

Nyaris menemui ajal, Glass mencoba dipertahankan hidup di medan yang teramat berat. Hendry pun memutuskan menawarkan upah menggiurkan bagi para ‎sukarelawan yang bersedia menemani Glass. John Fitzgerald (Tom Hardy) yang sedari awal sering berseberangan pendapat dengan Glass pun mengajukan diri. Ditemani juga oleh Hawk dan seorang rookie, Bridger (Will Poulter), Fitzgerald ternyata memiliki agenda tersendiri terhadap kelangsungan hidup Glass.

Perjalanan Glass mengembara kembali ke peradaban membuatnya harus melakukan hal-hal ekstrim yang divisualisasikan dengan amat gamblang. Pertarungan Glass versi Grizzly Bear di 20 menit awal film sungguh membuat penonton terdiam menahan nafas, bergidik sekaligus di saat bersamaan menaruh simpati terdalam. Belum lagi adegan-adegan lainnya yang tidak terduga dan tidak kalah mencengangkannya. Walau ending-nya lumayan tertebak, film ini juga mengajarkan proses yang sama pentingnya untuk mencapai suatu hasil.

Nyaris tidak ada pemeran yang salah casting, semua menjalankan perannya dengan apik, terutama‎ DiCaprio dan Hardy. Akting DiCaprio sangat mungkin membawa Oscar pertamanya setelah menjadi nominator untuk kelima kalinya. Lihatlah ekspresinya hingga mengeluarkan liur ketika orang kesayangannya ditikam, sementara ia hanya bisa terbujur kaku tanpa bisa berbuat apapun.

Sementara Hardy pun akhirnya menemukan momentum akting terbaiknya dan dilirik juri Oscar setelah berulang kali memerankan tokoh berkarakter ekstrim ataupun‎ antagonis. Walaupun Hardy mungkin harus mengakui keunggulan kompetitornya, Stallone, namun ia cerdik memilih peran dengan terlibat di 2 film yang meraih nominasi Oscar terbanyak tahun ini: The Revenant dan Mad Max Fury Road.

Pada akhirnya, mengutip pernyataan Glass, pembalasan dendam itu ada di tangan Tuhan. Artinya tugas manusia “hanyalah” berusaha segigih mungkin (bila perlu nyawa adalah taruhannya) untuk mencapai suatu tujuan‎. Yang ada hanyalah opsi berani hidup, bukan hanya berani mati.

Walaupun ternyata film ini harus merelakan trofi “Film Terbaik” ke nominator lain (Spotlight menjadi pesaing berat, karena kuat di skenario), bisa saja sampai saati ini The Revenant menjadi pencapaian tertinggi seluruh pihak yang terlibat di dalamnya. Bravo!

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan