theWalkThe Walk 4.2/5 STARS
“Passion Itu Bermula Dari Seutas Tali”

Ditulis sendiri dan disutradarai oleh Robert Zemeckis (‘Forrest Gump’, ‘Cast Away’, ‘Flight’), pastilah cerita film ini menggugah nurani sang pemenang Oscar tersebut. Kisah nyata Phillipe Petit, seniman Perancis yg terobsesi menyebrangi menara kembar ‘World Trade Center’ di tahun 1974, hanya dengan seutas tali rupanya menggelitik Zemeckis untuk membawanya secara visual ke layar lebar. Pilihan menonton di IMAX 3D pun sengaja disajikan supaya pengalaman menyeberang dari ketinggian 110 lantai pun dicoba ditularkan ke penonton.

Pilihan aktor utama jatuh ke Joseph Gordon Levitt, yang peran-peran sebelumnya memang mencuri perhatian: pemuda kasmaran (‘500 Days of Summer), penderita kanker (’50/50’), pecandu seks (‘Don Jon’), eksekutor (‘Looper’), hingga the next “Robin” (‘The Dark Knight Rises’). Portfolio Levitt bertambah dengan keluwesannya memerankan pemuda beraksen Perancis yang sedari kecil sudah tertarik dengan keahlian berjalan di atas tali.

Setelah minggat dari rumah karena berbeda prinsip dengan sang ayah dan dengan bermodal perlengkapan akrobat seadanya, Phillipe hidup dengan beratraksi di jalanan. Di sana pulalah ia berkenalan dengan sesama artis yang semula berebut penonton, Annie (Charlotte Le Bon) dengan gitarnya. Tak butuh lama bagi mereka untuk saling tertarik dan Annie pun mendukung hasrat Phillipe untuk melintasi gedung tertinggi di dunia (saat itu).

Bala bantuan terutama datang dari fotografer Jean-Louis (Clement Sibony) yang setia dan pimpinan senior rombongan sirkus Papa Rudy (Ben Kingsley), yang mengajari tips & trik, hal-hal yang tidak pernah dikuasai Phillipe sebelumnya. Hingga tiba saatnya, Phillipe bolak balik ke Amerika, menyamar dan mengobservasi kegiatan seputar pembangunan menara kembar tersebut, hingga mencari rekan-rekan aliansi sedapatnya.

Tanggal eksekusi petualangan ilegal tersebut ditetapkan 6 Agustus 1974. Drama tragedi pun terjadi tatkala salah satu kaki Phillipe mengalami kecelakaan. Belum lagi ditambah isu-isu domestik yang menambah kekacauan pikiran Phillipe.

Salah satu poin plus film ini ialah Phillipe tidak digambarkan sempurna alias murni protagonis. Masalah terbesar justru datang dari dalam diri Phillipe. Sifat keras kepalanya dan egonya yang besar menjadi penghalang sekaligus motivasi terbesarnya. Karakter Phillipe terlihat sungguh manusiawi dan dibawakan dengan lincah juga oleh Levitt.

Dikabarkan, Levitt mengalami sesi pelatihan berjalan di atas tali oleh Phillipe Petit sendiri, yang sampai sekarang masih hidup. Di hari ke-8, Levitt pun mulai terampil dapat berjalan sendiri! Totalitas Levitt yang tampaknya mungkin belum juga membuahkan nominasi Oscar tetap layak mendapat pujian.

Film ini disajikan laksana pengaturan eksekusi kegiatan ilegal, misalnya perampokan di “Ocean’s Eleven”. Semua persiapan, peralatan, hal-hal teknis dicoba ditampilkan dengan ringkas dan fun. Penonton dibawa harap-harap cemas akankah aksi gila Phillipe benar-benar terealisasi. Sehingga pada saat 30 menit terakhir film ini, visualisasi aksi Phillipe pun dapat membuat penonton menahan nafas atau menggenggam erat kursi bioskop, dengan diiringi ilustrasi musik yang membangun. Sinematografer Dariuz Wolski patut mendulang pujian.

Hasrat alias passion itu penting. Ia menjadi jiwa setiap makhluk yang kodratnya berkreasi sekaligus bertahan hidup. Hal inilah yang disampaikan oleh Phillipe Petit lewat aksi gilanya. Ia bukannya merasa takut mati, tetapi justru merasa ‘hidup’ dan menemukan ketenangan saat melakukannya. Pesan inilah yang mengusik benak Zemeckis untuk divisualisasikan secara nyata langsung ke para penonton.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan