WeddingBebekBetutuThe Wedding and Bebek Betutu 3/5 STARS
“Hanya Cukup Sebagai Obat Kangen”

Pada jaman kemunculannya (2004-2010), program sketsa komedi “Extravaganza” menuai kesuksesan sebelum sampai di tingkat kejenuhan dan digeser posisinya oleh program serupa “Opera Van Java”. Bermula tayang seminggu sekali, “Extravaganza” berhasil mengundang perhatian publik berkat talenta beragam para pemainnya dipandu dengan sketsa komedi pendek dengan perencanaan teknis dan plot yang cukup rapi. Lahirlah artis-artis baru yang menetas berkat program ini.

5 tahun berlalu, kerinduan di antara para pemain membuncah. Suasana kekeluargaan yang dahulu terjalin saat syuting tetap terjalin dengan baik. Tidak hanya antar pemain, sinergi dan relasi apik juga terjadi dengan (sebagian) kru yang menopang mereka sedari dahulu.

Alhasil dengan pasutri Tora Sudiro – Mieke Amalia sebagai produser didukung oleh investor di belakang layar, mereka berusaha mengembalikan kejayaan “Extravaganza” sekaligus mengobati rasa kangen. Ditulis dan juga disutradarai oleh Hilman Mutasi, sosok yang konon juga merupakan tim sukses acara terdahulu, film ini melibatkan hampir seluruh wayang orang “Extravaganza”. Hilman pulalah salah satu dari tim penulis karakter yang khusus dirancang untuk setiap pemeran, right man in the right place wacananya.

Plotnya sederhana, 2 keluarga ningrat yang akan menikahkan anaknya (keluarga pemilik hotel di Bandung tempat acara akan dilangsungkan dan keluarga Jawa) memiliki ego masing-masing saat bertemu satu hari menjelang pernikahan. Konflik diperuncing dengan teror foto-foto dan video para mempelai yang jika tersebar, maka akan mengancam kelangsungan pernikahan.

Jika plot kriminal tersebut belum cukup heboh, maka ditambah dengan alur pencarian bebek betutu yang membawa penonton melintasi sepanjang Kota Bandung dan sekitarnya. Bebek betutu diwajibkan ada saat pernikahan sebagai wujud salah satu ego kedua belah pihak besan. Seluruh permasalahan menjelang pernikahan dicoba diselesaikan oleh sang manager hotel dan para kru kepercayaannya.

Salah satu isu penting dari banyaknya pemain penting yang terlibat selain penjadwalan para artis yang kini super sibuk adalah pembagian porsi. Hal inilah yang menimpa Virnie Ismail, sosok yang menjadi ikon “Extravaganza” sayangnya hanya ditampilkan sekilas beberapa detik sebagai Mbak Tantri. Numpang lewat alias cameo! Entah karena saat syuting sedang hamil atau karena alasan lainnya.

Isu terbesar ialah terdapat banyak plot yang bolong di sana sini. Penelusuran pelaku pemerasan foto yang diinvestigasi berdasarkan sisa permen karet tampaknya sangat menyederhanakan masalah. Lalu setelahnya, ditampilkan banyaknya orang di hotel yang mengunyah permen karet untuk dijadikan tersangka. Sungguh memaksakan.

Hal lainnya yang mengganggu ialah sub plot pencarian bebek betutu yang mempertemukan para kru hotel dengan nenek Bali misterius. Alur ini malah gagal dijahit dengan mulus dengan kesinambungan keseluruhan cerita, dan berujung sedikit membawa nuansa horor yang serba tanggung. Sekali lagi, penyelesaian pun dibuat menjadi sungguh sepele.

Subplot yang bolong pun juga terjadi pada kembalinya mobil kuno kesayangan calon besan yang tiba-tiba diantar oleh polisi di pagi hari, beberapa jam menjelang acara pernikahan. Walaupun twist di akhir film cukup lumayan, tetapi keseluruhan film belum dapat secara konsisten meyakinkan penonton selain memang faktor chemistry para pemainnya yang terjalin apik.

Memang sungguh tidak mudah mentransformasikan sketsa komedi yang hanya 15 menit ke media layar lebar yang kali ini berdurasi 110 menit. Butuh konsistensi plot dan skenario yang tidak kedodoran, terjaga ritme dan mood-nya yang harus senantiasa dibangun. PR ini gagal diselesaikan oleh para kru dan pemain. Namun hanya jika dipandang sebagai reuni nostalgia dan obat kangen saja, film ini telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik.

Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan