TIGA DARA 4/5 Stars
“Kesederhanaan Masa Lalu yang Masih Layak di Masa Kini”

Setelah Lewat Djam Malam, kini giliran film jadul Tiga Dara (1956) yang beruntung direstorasi untuk dapat dinikmati penonton saat ini. Restorasi adalah proses perbaikan gambar dan suara, so film yang sudah berusia puluhan tahun tetap dapat ditonton dengan‎ kualitas sama seperti saat pertama kali dirilis. Proses restorasi Tiga Dara ini kabarnya menghabiskan 3,7 milyar rupiah. Biaya tinggi itu membuat tontonan tetap terjaga kualias gambar dan suaranya.

Diproduseri dan disutradarai oleh Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail, Tiga Dara menyajikan tema keresahan pencarian jodoh yang tak lekang oleh waktu‎. Adegan pertama langsung menampilkan Nunung (Chitra Dewi, telah meninggal saat ini) yang sedang merayakan ulang tahun ke-29 dan belum memiliki tambatan hati. Jika di jaman sekarang, usia 29 tahun saja sudah menjadi “lampu kuning” bagi kebanyakan wanita, so bayangkan bagaimana perkataan orang sekitar terhadap Nunung di tahun 1956 yang sudah berusia hampir menginjak kepala 3 namun tetap (berusaha) santai menjalani hidup tanpa lelaki pujaan hati?

Nunung sendiri masih tidak terlalu memusingkan kondisinya. Justru sang nenek (Fifi Young) yang sibuk mencarikan jodoh bagi cucu tertuanya. Serupa dengan omongan orangtua jaman sekarang, si nenek tidak bisa tenang dan belum rela meninggalkan dunia kalau Nunung belum menikah. Sayangnya, Nunung tidak hidup di era masa kini. Jika iya, maka ia akan langsung menjawab: “(dengan segala hormat) Woles saja Nek, ini hidupku, aku yang menjalani, kenapa Nenek‎ yang malah jadi pusing & ga bisa move-on?“.

2 Dara lainnya ialah Nana (Mieke Wijaya) yang supel‎ dan Nenny (Indriarti Iskak) yang ceria. Sepeninggal ibu kandung, mereka tinggal bersama Nenek dan Ayah yang sebenarnya tidak seribet si nenek. Nunung memang lebih sibuk mengurus rumah tangga dan malas bersosialisasi, bahan menikmati hidup. Instruksi Nenek yang menyuruh ayah dan saudari lainnya untuk memperkenalkan para pria kepada Nunung justru membuat Nunung malas.

Tidak disangka-sangka, di tengah jalan raya saat hendak menyeberang menaiki becak, Nunung tidak sengaja ditabrak pemuda bernama Toto (Rendra Karno) yang‎ kemudian meminta maaf dan menawarkan untuk mengantar pulang dengan skuternya. Dengan sinis, Nunung menolak. Toto yang membuntuti becak yang dinaiki Nunung pun mencoba merebut hati Nunung. Sikap Nunung pun konsisten menolak. Yang terjadi justru Nana mendekati Toto dengan agresif dan tampaknya Toto tak punya banyak pilihan. Nenny yang melihat kondisi itu mencoba memihak.

Plot dikejar pertanyaan “kapan kawin?”, “kok masih jomblo” ternyata sudah eksis sejak 6 dekade yang lalu dan rupanya masih sesuai dan masuk akal, bahkan kekinian. Kesederhanaan cerita 3 Dara memperkuat dialog lugas, berkat skenario M. Alwi Dahlan dan akting para pemain yang cukup pas sesuai porsi mereka masing-masing. Tema yang masih relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia menggoda teh Nia Dinata untuk me-remake menjadi Ini Kisah 3 Dara yang siap dirilis 1 September mendatang.

Film musikal ini juga menyajikan beberapa lagu yang ng-hits pada jamannya: bernuansa jazz dan blues. Mayoritas adegan masih dapat dinikmati meski beberapa adegan tampak menggelikan (bahkan mungin dianggap keren pada jamannya). Suasana kota Jakarta tempo dulu pun sempat ditampilkan, meski mayoritas adegan berlangsung di dalam ruangan.

‎Restorasi merupakan proses panjang melestarikan budaya bangsa terhadap film yang menjadi penanda pada jamannya. 3 Dara jelas layak direstorasi, dan hebatnya, waktu 60 tahun sama sekali tidak membuat tema yang diusung menjadi usang.

Text by Pikukuh
Photo by muvila[dot]com

Tinggalkan Balasan