IMG_20151203_003034VICTOR FRANKENSTEIN 2.9/5 STARS
“Di Balik Layar Bermain-main sebagai Tuhan”

‎Kisah karya Mary Shelley, “Frankenstein” sudah sering divisualisasikan ke layar lebar. Beragam adaptasi telah ditampilkan, mulai versi Kenneth Branagh – Robert De Niro (1994), edisi animasi karya Tim Burton yang membangkitkan hewan peliharaan mati, hingga “I, Frankenstein” (2014) yang bergenit-genit ria ketika Sang Makhluk terjebak dalam peperangan gothik. Tahun ini kisah klasik tersebut kembali dirilis ulang dengan mengambil sudut pandang tokoh asisten Victor Frankenstein, yaitu Igor Straussman.

Awalnya, sosok bungkuk tak bernama (Daniel Radcliffe, Harry Potter) yang dijadikan pertunjukan bulan-bulanan di sirkus ditemukan secara tidak sengaja oleh Victor Frankenstein (‎James McAvoy, Wanted, X-Men: Days of Future Past). Si Bungkuk mencuri perhatian Victor karena mampu “mengobati” Lorelei, pemain trapeze sirkus yang cedera, berkat hobinya membaca buku-buku medis.

Si Bungkuk yang dibawa kabur Victor menjadi buron. Keduanya dikejar dengan gigih oleh Scotland Yard, yang dipimpin Inspektur Turpin, Andrew Scott (Spectre)‎. Di kediaman barunya, Si Bungkuk diobati oleh Victor dan diberi nama baru, Igor Straussman. Igor sendiri adalah rekan 1 rumah Victor yang konon lebih sering menghilang karena hobi teler.

Dengan identitas barunya, Igor membantu Victor mengeksekusi ide gilanya:‎ mengumpulkan organ-organ hewan yang telah mati,untuk kemudian dijahit, digabungkan menjadi suatu entitas baru untuk kemudian diberi nyawa. Aksi Play-God ini tidak disetujui Lorelei. Namun rasa penasaran Igor mengalahkan saran gadis yang dicintainya.

Percobaan awal berhasil membangkitkan makhluk sejenis simpanse jadi-jadian. Sayangnya berbuntut kekacauan s‎aat demo presentasi berlangsung di kampus Victor. Rekan Victor yang berasal dari keluarga kaya nomor 3 se-Inggris Raya, Finnegan (Freddie Fox) tertarik dengan percobaan Victor. Finnegan pun bersedia menjadi sponsor penyandang dana demi percobaan Victor berikutnya yang lebih grande: sosok manusia jadi-jadian.

Igor yang semula mendukung mulai mengungkapkan ketidaksetujuannya. Di sisi lain, aksi kucing-kucingan dengan Turpin mulai bergerak dinamis. Victor pun menjadi gelap mata dan kian terobsesi dalam proses penciptaan makhluknya.

Akting Radcliffe sebagai Si Bungkuk yang canggung lebih berkembang dibanding ketika berperan sebagai bocah terpilih di dunia sihir.‎ McAvoy pun terlihat gigih berperan sebagai sosok kreator yang tenggelam dalam dunianya. Sayangnya performa Radcliffe dan McAvoy tidak dapat menolong alur plot Victor Frankenstein yang kian lemah, terutama menjelang ending.

Jika film-film adaptasi sebelumnya lebih berfokus pada masa setelah monster diciptakan dan diberi nyawa dengan bantuan kilat, maka Victor Frankenstein memang mengambil opsi pada proses perkenalan Victor – Igor hingga proses kreasi yang kemudian menuai bencana. Anti klimaks pun terjadi. Setelah monster diciptakan, plot pun terasa goyang. Entah karena dikejar durasi atau memang Victor baru merasa mendapat wangsit, sehingga terasa instan solusi yang tersaji di layar. Pertarungan monster jejadian versus Victor dan Igor terasa hambar dan tanggung.

Pada akhir pekan perdana pemutarannya, Victor Frankenstein gagal total di pasaran. Selama 3 hari, Victor Frankenstein hanya mampu meraup pendapatan‎ $3.5 juta dan bertenggeng di posisi 12 Film Terlaris di USA. Bahkan masuk Top 10 pun tidak! Dengan jumlah 2.787 bioskop yang menayangkan (termasuk cukup banyak), secara matematis penonton per studio pun terbilang sepi.

Ide penceritaan yang mencoba dibuat berbeda dan performa akting yang sebenarnya tidak buruk nyatanya tidak ditopang oleh plot yang solid, dan tokoh-tokoh yang masih tampak 2 dimensi. Belum lagi ditambah ending yang anti klimaks. Sebuah adaptasi yang merugi, mungkin juga para penonton juga sudah lelah dengan dongeng monster jejadian ini.


Text by @pikukuh22
Photo by imdb[dot]com

Tinggalkan Balasan