warcraftWARCRAFT 3.3/5 Stars
“Bagaikan Menyantap Gado Gado Tanpa Rasa Khas”

Selain seri Resident Evil dan dwilogi Lara Croft: Tomb Raider, jarang ada film yang berangkat dari video game berhasil di pasaran (baca: laris). Mortal Kombat,‎ Street Fighter, Doom, bahkan Pac-Man pun terpuruk secara kuantitas, apalagi kualitas. Kini Universal Pictures bersama Legendary Pictures dan Blizzard Entertainment mencoba peruntungan lewat Warcraft, yang berfokus pada perang antara manusia melawan makhluk raksasa berjenis Orc.

Pastinya tidak semua Orc berwatak jahat. Seperti Durotan (Toby Kebbell), salah satu pemimpin suku dan Garona (Paula Patton), orc wanita yang justru terbuang dari kaumnya. Mereka inilah yang dikisahkan masih memiliki logika dan rasa. Sementara nyaris seluruh suku Orc berada di bawah pimpinan tokoh antagonis Gul’dan (Daniel Wu) yang dengan sinar hijau magisnya berambisi menyeberang dan menguasai dunia manusia.

Di dunia manusia, jagoan penonton diwakili Anduin Lothar (Travis Fimmel), duda 1 anak yang menjadi kepercayaan sang Raja Llane (Dominic Cooper) sekaligus kakak ipar Anduin. Kerajaan mereka dilindungi oleh Medivh (Ben Foster), sang Penjaga yang juga memiliki kekuatan magis. Saat kaum manusia dan orc diadu-domba, bahkan dikatakan ada yang berkhianat, maka makin ricuhlah perseteruan antara kedua kaum ini.

Kelemahan film yang didasarkan dari video game kembali berulang: berfokus pada visual, namun lemah pada tutur penceritaan dan skenario yang dangkal. Namun setidaknya kisah Warcraft dicoba lebih berlapis oleh duo penulis Charles Leavitt dan Duncan Jones. Nama yang disebut terakhir juga berperan sebagai nahkoda alias sutradara film ini.

Hampir seluruh durasi 122 menit terasa seperti gado-gado alias dejavu campuran berbagai film (trilogi Lord of The Rings, Avatar, bahkan film-film penyihir sekalipun seperti seri Harr‎y Potter). Nyaris tidak ada ciri khas atau tanda tangan (signature) yang layak dikenang untuk sekedar membedakan film ini dengan berbagai film lain ber-genre peperangan melawan makhluk fantasi.

Dua hal yang agak menyelamatkan film ini‎ adalah tampilan grafis yang megah, terutama jika disaksikan lewat IMAX 3 dimensi dan bagian pamungkasnya. 20 menit terakhir memang lebih banyak diisi peperangan, namun yang menjadi nilai tambah justru bukanlah adegan baku hantamnya.

Berbeda dengan kebanyakan film yang dramaturginya melorot menjelang akhir film, Warcraft memberikan sesuatu yang berbeda pada ending-nya.  Keputusan para penulis skenario menentukan nasib para karakternya menjadi sesuatu yang anti mainstream berdasarkan argumen yang lumayan bisa diterima. Tidak sekedar happy ending yang super klise: manusia dan para orc saling bergandengan tangan, hidup damai berdampingan misalnya.

Sayangnya nilai tambah itu belum mampu mengangkat keseluruhan film yang memang goyah pada pondasi intinya. Sesi drama hubungan Anduin dengan anaknya serta Durotan bersama keluarga kecilnya (sayangnya) hanya dapat merebut perhatian tanpa mampu membuat penonton berempati lebih dalam.

Tampaknya para produser sengaja mempersiapkan film ini ke sekuelnya jika pundi-pundi uang yang diraup sesuai dengan target. Namun masih sangat banyak PR yang harus digarap, jika ingin membawa film adaptasi video game ini ke level berikutnya. Tidak sekedar menyantap gado-gado generik tanpa identitas yang jelas, apalagi khas.

Text by Pikukuh
Photo by comingsoon[dot]net

Tinggalkan Balasan