warkop-dki-reborn-jangkrik-bossWARKOP DKI REBORN JANGKRIK BOSS PART 1 2.4/5 Stars
“Kesuksesan Komersil Sebuah Nostalgia”

Setelah menempatkan hit Comic 8: Casino King Part II dan My Stupid Boss di deretan Top 3 Film Indonesia Box Office Tahun 2016, Falcon Pictures langsung mengambil langkah tepat berikutnya. Sengaja mepasang tanggal rilis menjelang libur panjang Idul Adha, Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 sudah dipersiapkan dengan matang untuk menjaring penonton seluas-luasnya. Salah satu produsernya, Frederica bilang, dengan biaya promosi tiga kali lipat dari biaya produksinya, maka kesadaran publik akan film reborn ini hampir dipastikan sudah melek. Mulai dari pemesanan tiket jauh hari sebelumnya, gambar baliho di berbagai tempat strategis hingga di-upload-nya video ‘Chicken Dance’ dan lagu tema ‘Warung Kopi’ di youtube.

Usaha Falcon tidak sia-sia. Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 dipastikan akan menggeser AADC2 dari gelar Jawara Film Indonesia Terlaris 2016 sejauh ini dan berpotensi menggulingkan‎ Laskar Pelangi dari tahta Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa. Rekor pencapaian yang mencengangkan ini berkat kerjasama tim yang luar biasa, terutama dalam membidik segmen pasar (semua umur) yang haus hiburan, sekaligus hendak mengenang nostalgia dengan lawakan khas Warkop yang sudah absen sekian lama.

Film diawali dengan segmen ‘Berita Dalam Dunia’ oleh Indro Warkop, yang (sesungguhnya) menjadi‎ pembuka yang basi. Membuat tersenyum pun tidak. Awal yang tidak mulus ini ternyata menjadi pertanda buruk bagi keseluruhan film. Nyaris selama 95 menit, tidak ada lawakan yang mengena.

Plotnya sendiri mencomot kisah CHIPS (1982), di mana Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G Bastian) & Indro (Tora Sudiro) diberi tugas atasannya (Ence Bagus) untuk meringkus kawanan begal. Mereka dibantu oleh anggota CHIPS Perancis, Sophie (Hannah Al Rasyid). Salah paham yang berujung malapetaka membuat mereka harus menanggung kerugian 8 milyar atau masuk bui. Petualangan berlanjut hingga ke Malaysia dan bersambung ke jilid 2.

Belajar dari kesuksesan Comic 8: Casion King yang dibagi 2, Falcon Pictures pun dengan percaya dirinya mengambil langkah serupa. Perhitungan yang tepat secara komersil, namun tidak untuk kepentingan esensi cerita film. Alur Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 sangat berpanjang ria, melelahkan dan membosankan. Sangat jauh lebih efektif jika dipadatkan menjadi 1 jilid, tetapi tentu saja alasan komersil mengalahkan segalanya.

Satu-satunya yang bersinar dengan terang adalah performa Abimana. Dengan modal gigi palsu, timbunan perut buncit palsu, sosok Abimana jelas tenggelam dalam karakter Dono yang mencuri perhatian. Wajahnya yang paling nggak banget, (sesuai pola lama), malah yang paling sering untung alias menang banyak, dibanding kedua rekannya.

Vino G Bastian terlihat berusaha sangat-sangat keras memerankan Kasino. Usaha yang berlebihan justru menularkan energi kelelahan kepada penonton. Effortless menjadi kata yang bukan sama sekali mencerminkan akting Vino.

Sementara Tora Sudiro malah sibuk sendiri dengan karakter Indro. Tidak jelas juga apakah ia mengidap penyakit schizophrenia dengan berilusi didatangi versi Indro botak dari masa depan atau memang tidak waras.‎ Kemunculan Indro Warkop sebagai sosok imajiner bagi Indro muda justru mengganggu akal sehat sekaligus nurani penonton. Tampilan ala minion atau bahkan Katy Perry sangat menggelikan sekaligus membuat mual.

Anggy Umbara pun didaulat menjadi sutradara spesialis komedi oleh Falcon, setelah sebelumnya berhasil (lagi-lagi secara komersil) mengangkat 3 film Comic 8 merajai box office. Anggy sudah paham bagaimana pakem disukai publik, namun kedodoran maksimal secara kualitas. Naskah yang ditulisnya bersama Bene dan Awwe pun tidak kalah lemahnya. Minimnya slapstick yang seharusnya memberi ruang pada (timing, gimmick, bahkan dialog) komedi situasi lainnya ternyata tidak dimanfaatkan dengan optimal.

Sangat bisa dimaklumi keberhasilan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 sebagai kerinduan masyarakat Indonesia akan munculnya trio Warkop DKI yang sudah sedemikian melegenda. Filosofi melestarikan, bukan menggantikan‎ sungguh suatu niat mulia. Tujuan mulia nan komersil dengan mengatasnamakan nostalgia tidaklah cukup jika ingin dikatakan sebagai karya seni yang apik. Jika hanya ingin mengeruk pundi-pundi rupiah penonton dengan mengesampingkan kualitas, maka Falcon Pictures telah menunaikan tugasnya dengan nilai cemerlang.

Text by Pikukuh
Photo by movie[dot]co[dot]id

Tinggalkan Balasan