X-Men ApocalypseX-MEN APOCALYPSE 4.2/5 Stars
“Kiamat Sudah Dekat!”

Kiamat Sudah Dekat! Gambaran itulah yang dimimpikan Jean Grey (Sophie Turner). Kemampuan melihat masa depan yang belum mampu dikontrolnya menimbulkan guncangan gempa dan kehebohan di Sekolah Mutan pimpinan Prof Charles Xavier (James McAvoy). Sumber kiamat itu ternyata berasal dari (konon) mutan pertama di dunia En Sabah Nur alias Apocalypse (Oscar Isaac).

Apocalypse yang berniat menguasai dunia ini mulai muncul di Mesir dengan dibantu pengikutnya ‘The Four Horsemen’.‎ Pengkhianatan yang terjadi mengakibatkan ia harus terperangkap selama ribuan tahun dan secara tidak sengaja dibangkitkan oleh agen CIA yang juga menjadi love interest Prof Charles, Moira Mactaggert (Rose Byrne) ketika melakukan investigasi.

Apocalypse memiliki kemampuan menyerap kemampuan mutan lainnya sekaligus mampu hidup abadi dengan memindahkan alam bawah sadarnya ke fisik mutan lainnya yang ingin dikuasainya. Kebangkitan Apocalypse di masa kini dimulai dengan merekrut ‘The Four Horsemen’ versi kekinian: Storm (Alexandra Shipp), Psylocke (Olivia Munn), Angel (Ben Hardy) hingga Magneto (Michael Fassbender). Terdapat alasan tragis mengapa Magneto akhirnya bergabung di tim Apocalypse.

Ketika Apocalypse mulai berulah melucuti rudal hingga meluluhlantakkan seantero dunia, menjadi tugas berat Prof Charles and the gang untuk menghentikannya. Apalagi ditambah dirinya menjadi sasaran utama Apocalypse yang memiliki agenda tersembunyi. Talenta Prof Charles dan keberadaan Cerebo benar-benar dimanfaatkan Apocalypse dalam menebar teror global.

Ternyata bukan hanya ‎Jean Grey yang belum mampu mengendalikan kekuatannya. Cyclops alias Scott Summers (Tye Sheridan) pun mengalami fase serupa. Perkenalan keduanya menjadi cikal bakal plot romansa mereka yang tidak mengganggu keseluruhan film.

Jennifer Lawrence masih tampil cukup dominan sebagai Mystique, sekaligus penghubung antara 2 mutan berbakat yang sebenarnya bersahabat‎: Prof Charles dan Magneto. Kemunculan versi remaja Storm, Jean Grey, Cyclops hingga Nightcrawler (Kodi Smitt-McPhee) menjadi penyegar yang memberi nilai tersendiri.

Bryan Singer, yang kini menorehkan sejarah telah menyutradarai 4 film X-Men, tampaknya sudah tahu benar akan dibawa kemana film ini bermuara. Jika dikonsepkan sebagai film gabungan bencana bertokohkan para superhero, maka X-Men Apocalypse telah menjalankan tugasnya dengan standar rata-rata. Namun sesungguhnya itu saja tidak cukup.

Jika X-Men: First Class masih dalam fase perkenalan (setting tahun 1960-an), sedangkan X-Men: Days of Future Past (setting tahun 1970-an) dengan lincah dan cermat menggabungkan pemain senior dan junior X-Men, maka keseruan ‎X-Men Apocalypse (setting tahun 1980-an) berada di antara kedua film prekuelnya. Alur X-Men Apocalypse belum memiliki faktor greget optimal, meski jelas menghibur. Berbagai unsur kejut dari sub-plot sudah coba ditampilkan pada X-Men Apocalypse, namun jelas kalah telak dibandingkan standar tinggi yang telah ditorehkan oleh X-Men: Days of Future Past yang sungguh layak menjadi “Film X-Men terkeren” sejauh ini.

Alur X-Men Apocalypse pun terbilang klise: tentang maniak gila yang mencoba menguasai dunia. Meski dinamika tim X-Men menjadi bumbu yang cukup gurih, namun belum memberikan esensi‎ yang luar biasa. X-Men Apocalypse menghibur, tapi belum mengesankan.

Coba bandingkan dengan plot superhero Marvel yang tepat dirilis sebelum X-Men Apocalypse, Captain America: Civil War yang jelas-jelas membawa isu personal para tokoh utamanya sambil tetap dengan gesit menghibur dengan perseteruan tim Avengers yang saling mengisi. Penonton dibawa berempati dan peduli. Hal inilah yang terasa absen pada roh X-Men Apocalypse secara keseluruhan, kecuali empati penonton pada Magneto. Kredit khusus patut diberikan pada Michael Fassbender yang memberikan akting kelas Oscar beberapa menit saat adegan di hutan.

Dinamika tim pada X-Men Apocalypse dapat dikatakan cukup menarik. Nyaris tiap karakter diberikan “modal” alias argumen untuk menjadi berwarna. Tak ada tokoh yang murni hitam, bahkan putih sekalipun. Kehadiran cameo Wolverine dan interaksi singkatnya dengan Jean Grey cukup sesuai porsi.

Sindiran terhadap film jilid 3 sempat dilontarkan oleh Jean Grey sesaat setelah menonton Return of The Jedi. Apakah X-Men Apocalypse ber‎nasib seperti yang dikatakan Jean Grey tergantung dari respon penonton. Yang jelas adegan tambahan saat akhir credit scene menandakan kelanjutan yang lebih akan berfokus pada tokoh Wolverine.

Trivia: di rumah ibunda Quicksilver, sesaat ditampilkan adegan dan lagu tema serial di TV yang mencoba merepresentasikan eranya, serial lawas apakah itu?
A. ‎Knight Rider
B. Hunter
C. ‎MacGyver
D. Remington Steele
E. The A-Team

Text by Pikukuh
Photo joblo[dot]com

Tinggalkan Balasan