xxxXXX RETUTN OF CANDER CAGE 2.5/5 Stars
“Meriahnya Aksi Ugal-Ugalan Diesel “

Belasan tahun berselang setelah pendahulunya, kini seri ketiga dari agen rahasia ekstrem XXX hadir kembali. Di awal kemunculannya pada tahun 2002, XXX tampil di masa keemasan Vin Diesel setelah keberhasilan Fast and Furious. Vin Diesel menjadi bintang aksi baru yang (terlihat) menjanjikan, selain Jason Statham yang juga mulai meroket.

Pada masanya, agen rahasia dapat disebut keren jika merujuk pada tampilan James Bond yang rapi parlente. Jason Bourne belum bersinar terang kala itu. Agen XXX bertolak belakang dengan sosok mainstream pria ala Bond. Ia urakan, apa adanya, gemar menjajal aksi bertaruh nyawa, namun tetap dikelilingi wanita aduhai.

Kesuksesan XXX tak membuat Diesel bergeming melanjutkan sekuelnya di tahun 2005. Rapper Ice Cube terpilih menjadi pengganti. Ironis, pendapatan komersil sekuelnya sangat jauh di bawah seri pertamanya.

Setelah bersinergi melalui seri Fast and Furious, Diesel melihat ada potensi lain dari XXX yang belum tergarap. Ia yang sudah berpengalaman menjadi salah satu produser filmnya sendiri. So, kembalilah jagoan Xander Cage di seri ketiganya ini dengan alur cerita sesuai rancangan Vin Diesel.

Setelah wafatnya Gibbons (Samuel L Jackson), Amerika dalam bahaya. Penyebabnya jelas karena kehadiran Kotak Pandora yang dapat mengontrol seluruh satelit di seluruh penjuru dunia telah direbut oleh kawanan berandalan: Xiang (Donnie Yen), Serena (Deepika Padukone),  Talon (Tony Jaa) dan Hawk (Michael Bisping).

Komando kini berada di bawah Jane Marke (Toni Colette). Marke dan timnya pun menemukan Cage yang selama ini memalsukan kematiannya. Cage yang diminta menemukan Kotak Pandora lebih memilih anggota timnya sendiri. Maka direkrutlah sniper Adele (Ruby Rose), supir Tennison (Rory McCann) & DJ Nicks (Kris Wu) yang lebih ia percaya.

Seri ketiga ini sekilas mengingatkan penonton akan seri Fast and Furious. Keduanya sama-sama menonjolkan aksi berbahaya yang nyaris tak mungkin, hingga kumpulan para kaum terpinggirkan yang menjadi anggota tim Vin Diesel dalam mengeksekusi rencana gilanya.

Sementara itu perbedaannya jelas. Fast and Furious ditopang konsep yang lebih berbobot dan pengembangan karakter sehingga penonton tak sulit berempati. Kedua hal dasar itu yang sama sekali tak ditemui di film berdurasi 107 menit ini.

Pengenalan seluruh karakter tampak ala kadarnya, subplot picisan, dialog menggelikan hingga twist yang mudah tertebak. Keseluruhan unsur di film ini tak membawa hal baru. Untungnya, keseruan dan kehebohan yang ditampilkan rapat, membuat penonton tak sempat bosan.

Film yang memasang banyak bintang Asia ini jelas akan diserbu oleh penggemar Vin Diesel yang merindukan aksi gilanya. Bertebarannya bintang Asia jelas ditonjolkan untuk meraih penonton yang potensial di seluruh Benua Asia. Sayangnya tak ada satupun aktor Indonesia tim The Raid yang terlibat di sini.

Dapat dipasikan aksi ugal-ugalan Diesel dan timnya menjadi jualan utama film ini. Berselancar dengan skateboard dari ketinggian menara pemancar hingga melawan arah jalur mobil, berseluncur di tengah ombak sambil mengendarai motor, hingga menghajar musuh dengan roda motor berkecepatan tinggi menjadi hiburan visual mainstream tanpa otak.

Unsur kebetulan sesuatu yang tiba-tiba dan tak bisa dijelaskan pun bertebaran di sepanjang film. Penonton hanya diminta menelan bulat-bulat seluruh kisah tanpa diberikan kesempatan untuk mencerna. Jika tipe hiburan tontonan macam junkfood (membuat kenyang, namun minim gizi) itu yang kamu butuhkan, maka ekspektasi kamu akan tepat sasaran.

Text by Pikukuh
Photo by solar movie

Tinggalkan Balasan