ZIARAH 4/5 Stars
“Belajar Tekun, Sabar, dan Berhati Besar dari Si Mbah”

Dengan badan bungkuk dan langkah pelan, Mbah Sri (Ponco Sutiyem) tak kenal lelah menyusuri jalanan antar desa. Jika berjarak lebih jauh, ia naik bis kota sendirian. Tujuannya sederhana: mencari makam sang suami yang telah meninggalkannya saat berperang puluhan tahun silam. Ia hanya ingin dimakamkan dekat kuburan sang suami tercinta.

Bekalnya hanya tas kecil cokelat yang didekapnya erat. Sebilah keris kecil bersejarah dan bunga siap untuk ditaburkan ketika makam sang suami, Pawiro Sahid, ditemukan. Perjalanan Mbah Sri tak mudah, karena keterangan yang ditemui berbeda-beda. Bahkan sosok yang konon pernah mengenal suaminya pun telah tiada.

Keponakannya, Prapto (Rukman Rosadi) pun menjadi panik, mengingat neneknya yang sudah berusia lebih dati 90 tahun pergi tanpa pamit. Prapto memiliki konflik sendiri dengan sang calon istri yang menuntut dan seolah tak pengertian.

Film panjang pertama B.W. Purbanegara ini menjadi road movie yang tak biasa. Selain sosok utamanya anti mainstream (tua renta yang belum pernah punya pengalaman akting), mood film pun lebih banyak diisi keheningan. Dialog dalam bahasa Jawa halus menghiasi percakapan Mbah Sri atau Prapto dengan berbagai karakter yang mereka temui di sepanjang jalan.

Skenario yang berisi dialog keseharian plus sarat makna namun tetap ringan menjadi kekuatan sendiri. Rendah hati dan membumi. Tak heran film berdurasi 87 menit ini dianugerahi Best Screenplay & Special Jury Award di ASEAN International Film Festival Awards (AIFFA) 2017.

Bahkan sang pemeran utama sempat mencuri nominasi di kategori Best Actress. Tak heran, karena saat proses casting, yang dicari ialah sosok sepuh yang memiliki pengalaman hidup berlimpah dan sanggup menularkannya ke dalam peran Mbah Sri.

Bagian akhir film ini pun menjadi klimaks yang tak terduga nan mengesankan. Sebuah perjalanan yang layak untuk diikuti. Dibantu oleh sinematografi indah, membuat penonton serasa pulang kampung halaman.

Hidup tak selamanya indah, namun sosok Mbah Sri telah mengingatkan kita, hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dinikmati setiap prosesnya, terlepas dari apapun fakta yang akan ditemui. Kebulatan tekad, konsistensi pantang menyerah hingga berhati besar menjadi pelajaran berharga.

 Text by Pikukuh
Photo by filmbor[dot]com

Tinggalkan Balasan