ZootopiaZOOTOPIA 4.2/5 STARS
“Terusiknya Kedamaian Dunia‎ Hewan”

Zootopia, film animasi Disney yang lebih dulu rilis di Indonesia daripada negara asalnya ini, kembali “memanusiakan” hewan-hewan dengan segala karakteristiknya. Mereka hidup di kota metropolis yang modern, Zootopia, tempat yang konon membuat siapapun dapat menjadi apapun juga. Filosofi ideal yang prakteknya tidak semudah mengedipkan mata.

Alkisah Judy Hopps (Ginnifer Goodwin), kelinci perempuan yang aktif, supel dan sudah bercita-cita menjadi polisi sejak kecil. Motivasinya sederhana: dapat berbuat baik dan membantu orang, eh, hewan lain. Kedua orangtua Judy hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Maklum, mayoritas keluarga kelinci punya rekam jejak‎ sebagai penanam wortel. Bahkan belum ada satu sejarah pun, keluarga kelinci menjadi anggota kepolisian. Masa kecil Judy yang tidak dianggap dan menjadi korban bully ditampilkan sekilas.

Singkat cerita, berkat ketekunannya, Judy mampu memecahkan rekor menjadi kelinci pertama yang berhasil menjadi polisi. Mayoritas anggota kepolisian memang hewan-hewan bertubuh besar dan tegap. Anti klimaks, tugas perdana Judy‎ justru menjadi pemberi tilang. Dengan dedikasi tinggi, Judy berupaya memberikan yang terbaik. Tapi itu saja tidak cukup. Apalagi ada kabar kasus 14 mamalia yang hilang secara misterius menjadi kecurigaan tersendiri baginya.

Aksi Judy mempertemukannya dengan rubah yang punya banyak akal (jika tidak ingin disebut licik), Nick Wilde (Jason Bateman). Buddy comedy keduanya menghasilkan chemistry yang kocak, sinergi yang asik, dan minim drama yang nggak perlu.‎ Petualangan membawa mereka menghadapi konspirasi rumit dengan kepentingan tingkat tinggi, tapi masih mudah dipahami penonton anak-anak.

Setelah Deadpool yang kemungkinan besar membuat penonton orangtua kecewa karena tidak layak dikonsumsi anak-anak, kini hadir Zootopia sebagai tontonan yang “aman” untuk anak.‎ Tampilan animasi yang halus dan eye candy, plot investigasi serta aksi duet Judy-Nick yang seru membuat penonton semua umur bakal betah di depan layar.

Zootopia tidak berhenti di situ saja. Masih banyak amunisi yang ditebar di sepanjang film‎, yang membuat penonton dewasa merasakan banyak ragam kelebihannya. Memang sih tema from zero to hero dan bullying masih menjadi formula dasar yang mainstream.

Mulai adegan awal, Zootopia telah mengkontraskan semangat (passion) jiwa muda Judy untuk meraih mimpinya (walau tidak mudah setelah mengalami banyak kegagalan) versus harapan orangtua yang menginginkan anaknya memilih jalur hidup (aman) versi orangtua, juga stereotype dari komunitas sekitar yang merasa berhak melabeli nasib hidup makhluk lain. Ketekunan, disiplin dan konsistensi menjadi kunci sukses keberhasilan Judy.

Hulu ledak yang cukup dashyat justru terletak pada penggambaran alur 30 menit terakhir. Sang dalang tokoh antagonis (yang hampir sulit ditebak dari awal) memiliki motif yang kini sering dilakukan di dunia manusia:‎ atas nama kekuasaan, ia berusaha mengacaukan ekosistem heterogen yang sudah berjalan harmonis. ‎Dalam konteks film ini, hampir seluruh hewan karnivora, herbivora dan omnivora dapat hidup selaras, bahkan bekerjasama, demi bebas untuk mencapai tujuan masing-masing.

Hal yang sama juga terjadi di dunia nyata, di mana isu apapun (misalnya SARA) sengaja dihembuskan, propaganda disebarkan, bahkan pelanggaran hukum atau anarkis sengaja dieksekusi, so kaum yang dituju dengan mudah akan terprovokasi. Hasil akhirnya, masyarakat heterogen kita yang sudah aman dan saling menghargai dapat terhasut, ricuh dan terpecah. Dalam hal ini, kedewasaan ekosistem masih dapat digoyang dengan mudahnya. Yang tertawa terakhir justrulah sang dalang yang mengendalikan wayang-wayangnya (penduduk jelata, pemerintahan di dalamnya).

Sebuah konsep yang ironis dan‎ mendalam ini disajikan dalam animasi berbungkus kemasan menarik, family-friendly dan pastinya menghibur. Keberadaan Shakira sebagai (hewan) penyanyi bernama Gazelle membawakan lagu tema yang in-line dengan jiwa film ini. Semangat agar penonton nggak gentar dalam mencoba hal baru apalagi dalam mengejar passion dan mimpi.

Zootopia memang bukanlah sekelas Inside Out yang jenius, filosofis sekaligus mengharu-biru. Film ini juga jelas bukan semata-mata pengulangan kartun lainnya yang memindahkan karakter hewan ke dunia manusia, macam Madagascar dan Kungfu Panda. Zootopia lebih dari itu. Ia menjadi metafora terbuka dimana ekosistem heterogen makhluk hidup dengan segala macam konfliknya, yang dipandang dari sudut kepolosan salah satu penduduk yang berjiwa optimis dan tekun dalam mengejar mimpi, terlepas dari keterbatasan dirinya dan isu bullying. Well done!

Text by @pikukuh22
Photo by forbes[dot]com

Tinggalkan Balasan